Home >>Blog >Jalan-jalan

Terry Endropoetro's avatar

Main ke Hutan Bambu

Seperti namanya, Desa Wisata Alam Hutan Bambu Sumber Mujur, menyuguhkan suasana teduh. pohon-pohon bambu tumbuh bergerombol di mana-mana. Melengkung menaungi jalan atau tumbuh tegak menjulang tinggi.

Di balik keindahan hutan bambu itu ternyata ada usaha keras dari Syafi'i. Ketika menjabat Kepala Desa Sumber Mujur, Candi Puro, Lumajang pada 1998. Beliau melihat hutan bambu di desanya mulai rusak. Padahal sejak zaman Belanda desa ini menjadi penghasil rebung terbesar di Jawa Timur.

Kekhawatiran makin rusaknya hutan bambu beralasan. Karena keberadaan hutan bambu diperlukan untuk menjaga keseimbangan ekosistem sumber mata air yang mengairi 3 desa di sekitarnya.

Sebenarnya rusaknya hutan bambu disebabkan oleh masyarakat sekotar desa itu sendiri. Mereka menebang batang-batang bambu sesuka hati. Dijadikan perabot, kerajinan, dan alat rumah tangga untuk dijual sebagai tambahan penghasilan sambil menunggu panen padi.

Bukan hal yang mudah memberi pemahaman pada masyarakat. Namun perlahan-lahan masyarakat desa diberi pengertian, sawah-sawah yang dulu hanya menanam padi juga kemudian dialihkan menjadi pertanian tumpang sari. Dengan begitu tanpa harus menjual bambu pun penghasilan para petani tak terganggu.

Setelah diteliti, ternyata di 14 hektar hutan bambu, ada 21 jenis bambu. Bambu jajang (pring tali), bambu wulung, bambu hitam, bambu petung, dan banyak lagi. Lalu dibuatlah peraturan desa yang melarang memotong atau mengambil bambu. Bambu-bambu hanya boleh diambil untuk kebutuhan kegiatan desa. Bila tertangkap memotong bambu akan dikenakan denda membayar Rp50.000/batang bambu yang dipotong.

Usaha berbuah manis. Desa Sumber Mujur mendapat penghargaan Kalpataru (2002) dan Satya Lancana Lingkingan Hidup (2014). Hutan bambu makin lebat, melindungi sumber mata air dan membuat desa menjadi asri. Selain masyarakat desa, keberlangsungan hidup monyet dan kalong pun diuntungkan dengan keberadaan hutan bambu.

Pada 'sensus' tahun lalu diketahui ada sekitar 850 monyet yang hidup di dalam hutan bambu. Mereka hidup berkelompok-kelompok. Dulu, monyet-monyet ini memang menjadi pengganggu di desa. Selalu mencuri hasil tani. Namun, sejak hutan bambu menjadi lebih rimbun, kenakalan mereka berkurang. Apalagi sejak dibentuknya POKDARWIS (Kelompok Sadar Wisata) yang bertugas mengumpulkan sumbangan makanan dari warga 2 kali seminggu untuk diberikan pada monyet-monyet. Sejak itu monyet-monyet pun sudah berlaku lebih baik lagi. Menjadi santun sih tidak, tapi paling tidak mereka mau berinteraksi dengan pengunjung yang membawakan makanan.
Seperti yang saya lakukan saat datang ke sana. Awalnya ketika monyet-monyet tahu saya membawa kacang mereka berlarian mendekat. Tapi monyet kecil akan diusir oleh monyet besar. Seekor monyet besar datang. Sebenarnya saya dan dia sama-sama takut. Saya takut dicakar, dia mungkin takut karena saya berbadan lebih besar. Tapi setelah saya sodorkan kacang. Akhirnya dia mau saya ajak ngobrol ha... ha... ha... ha....

Kala itu saya berkunjung ke Hutan Bambu menjelang sore hari, belasan ribu kelalawar akan meninggalkan sarang mereka di pucuk-pucuk batang pohon bambu beterbangan mencari makan. Biasanya kelalawar-kelalawar itu akan kembali ke sarang menjelang pagi.

Peraturan Desa juga melarang perburuan kelalawar. Kalaupun ada yang membutuhkan kelalawar sebagai obat, harus meminta izin kepada Kepala Desa. Begitu juga kalau ada warga desa yang melihat kelalawar jatuh ke tanah, wajib lapor kepada Kepala Desa. Kelalawar-kelalawar itu akan dirawat hingga sayapnya pulih untuk kemudian dilepas kembali.

Tertarik berkunjung ke sana? Kalau Anda menggunakan kendaraan pribadi bisa langsung menuju Hutan Bambu. Tapi bila Anda menggunakan kendaraan umum, hanya akan sampai di Terminal Candi Puro. Nah, tinggal telepon (lagi-lagi) Kepala Desa (081234695678). Anda akan dijemput dengan motor atau mobil, dengan biaya penjemputan Rp10.000/orang. Gampang, kaaaaan. █

--------------------------------------------------

Perjalanan bersama para blogger, instagramer, dan fotografer ini terlaksana atas undangan Kementerian Pariwisata Republik Indonesia. Foto-foto juga diposting di twitter dan instagram dengan hashtag #PesonaLumajang #PesonaIndonesia


Comments (6)

Topic:
Sort
0/5 (0)
Gravatar
Rry Rivano says...
Dua hewan yg saya takuti ada di satu desa, tp melihat kak Terry akrab dengan si monyet.. kayanya ga terlalu menakutkan ya mereka.
Gravatar
Terry Endropoetro says...
Tadinya juga takut. Tapi pawangnya bilang monyetnya baik-baik. Jadinya berani deh.
Gravatar
Fitri Tasfiah says...
monyet-monyet setelah diberi makan mereka lebih "tenang" ya. jadi sebenernya hewan2 yang dianggap penggaggu itu ya karena lapar ya. tapi salut sama warga desanya yang punya ide ini. tadinya udah takut hewan2 ini disakiti atau justru dipunahkan, seperti di tempat2 lain..
Gravatar
Terry Endropoetro says...
Setuju mbak. Manusia suka lupa kalau mereka menghancurkan lahan hewan bua mencari makan. Giliran hewan masih kampung dibilang pengganggu.
Gravatar
Reh Atemalem says...
Begitu juga kalau ada warga desa yang melihat kelalawar jatuh ke tanah, wajib lapor kepada Kepala Desa. Kelalawar-kelalawar itu akan dirawat hingga sayapnya pulih untuk kemudian dilepas kembali.

Aku kok terharu baca yang ini ya. Baru kali ini baca ada aturan desa buat merawat kelelawar. Sebagian besar orang kan anggap kelelewar itu serem yes.
Gravatar
Terry Endropoetro says...
Iya. Ternyata peraturannya ketat dan hebatnya semua masyarakat desa akhirnya dengan kesadaran sendiri terbiasa dan mematuhinya.

Add Comment

* Required information
(never displayed)
 
Smile Sad Huh Laugh Mad Tongue Crying Grin Wink Scared Cool Sleep Blush Unsure Shocked
 
2000
Captcha
Refresh
 
Enter code: