Home >>Blog >Rumah Ibadah

Terry Endropoetro's avatar

Pagoda di Masjid Agung Palembang

Megah dari kejauhan dengan menara tinggi menjulang dan tampilan arsitektur modern membuat saya dan Gemala Putri yang tadinya hanya melintas jadi penasaran. Kami pun membelokkan langkah memasuki halaman masjid. Dan semakin mendekat ke bangunan masjid, makin terasa pula kentalnya nuansa tradisional yang bercampur dengan budaya Cina.

Masjid ini didirikan pada abad ke-18 oleh Sultan Mahmud Badaruddin I Jaya Wikrama. Dibangun di kawasan kampung pemukiman masyarakat asli Palembang dan Arab. Letaknya tak jauh dari sungai Musi, sungai yang merupakan jalur perdagangan sejak zaman kerajaan Sriwijaya. Di mana kapal-kapal dagang lalu-lalang melintas.

Seperti halnya dengan para pedagang Arab, tak sedikit pedagang Cina kemudian menetap dan menikah dengan gadis-gadis setempat. Secara perlahan budaya Cina pun membaur dan berpadu dengan budaya asli Palembang dan Arab. Jadi jangan heran, bila melihat atap masjid berbentuk limas dengan sederet ornamen berwarna emas berbentuk 'ujung-ujung ombak' seperti gaya atap rumah-rumah Cina. Bahkan menara masjid pun berbentuk pagoda 3 tingkat dengan 8 sisi dengan hiasan logam berbentuk bulan sabit dan bintang di puncaknya.

Masjid ini sudah mengalami beberapa kali renovasi. Tanpa mengubah bentuk bangunan aslinya, menara baru yang tinggi dan langsing dibangun menjulang. Agar dapat menampung lebih banyak jamaah, ruangan pun ditambah di bagian utara dan selatan masjid. Bahkan perluasan bangunan bagian timur sudah sampai di tepi jalan raya.

Kolam besar di halaman menjadi ciri khas peninggalan masjid-masjid dahulu. Biasanya digunakan untuk tempat jamaah mengambil air wudlu. Namun, setelah ditemukan teknologi sumur pompa dan keran, kolam masjid tak lagi digunakan dan berubah fungsi menjadi penghias halaman.

Agak bingung juga kami memilih di antara dua jalan masuk ke dalam teras masjid. Dari sisi utara atau selatan? Mana jalan untuk jamaah wanita? Mana jalan untuk jamaah pria? Karena tak ada orang yang bisa ditanya, kami memilih jalan masuk dari sisi utara. Beruntung juga, karena di sisi inilah dua buah bedug diletakkan. Dari penampakan model dan hiasannya, bisa terlihat bahwa bedug yang berukuran lebih kecil dibuat lebih dulu. Hiasannya lebih detil berwarna merah, hijau, dan emas. Kait dan rantai raksasa menggantung bedug pada sebuah balok melintang. Sebuah kentongan kayu besar dengan cat yang sudah mulai mengelupas masih tergantung pula di sebelahnya. Dahulu, bedug dan kentongan merupakan alat yang efektif pemanggil umat penanda tibanya waktu sholat. Dipukul bertalu-talu sesaat sebelum mu'adzin mengumandangkan adzan dari atas menara.

Untuk masuk ke dalam bangunan utama, kami melewati pintu-pintu tinggi dengan lengkungan di bagian atas bernuansa Timur Tengah. Di siang hari dengan udara kering dan panas yang terik, telapak kaki saya merasakan dinginnya lantai teras masjid berganti dengan lembutnya lapisan karpet berwarna hijau yang digelar dari ujung ke ujung di dalam ruang utama masjid. Karpet yang berfungsi sebagai sajadah tempat bersujud dan cukup empuk untuk duduk sambil bertadarus dan membaca Alquran.

Jajaran kayu berlapis cat putih sengaja ditampilkan di langit-langit masjid. Disangga 12 tiang kayu berwarna hijau yang kokoh berdiri. Entah sudah berapa usia tiang-tiang kayu yang ditanam pada semen berlapis keramik dan diberi hiasan melingkar berupa logam berukir berlapis warna emas.

Langit-langit di bagian tengah ruangan (persis di bawah kubah limas), digambari 20 lingkaran dan 16 bujursangkar yang masing-masing berisi kaligrafi bertuliskan Asmaul Husna, 99 nama Allah subhanna wa ta'alla. Lampu kuningan menggantung di tengahnya dengan 'tangkai-tangkai' melengkung bagai jari dan kuku penari tanggai.

Selain pada tiang, ornamen khas Palembang juga menghias pintu dan mimbar yang memiliki beberapa anak tangga tampak megah dengan ukiran ornamen berwarna emas. Kaligrafi-kaligrafi juga ada di atas jendela-jendela yang dihias kaca patri. Jendela-jendela itu (tampaknya) bisa dibuka sebagai sirkulasi udara. Pada bagian bawah setiap jendela, ada semacam pagar pembatas. Pasti dulunya ada daun jendela yang bisa dibuka dan ditutup layaknya gaya bangunan radisional Palembang dahulu.

Siapa pun yang berfikiran terbuka pasti mengagumi Masjid Agung Palembang, sebagai salah satu contoh betapa nenek moyang kita dulu membangun rumah ibadah dengan tetap menghargai percampuran budaya. Sebuah bukti bahwa keharmonisan beragama sudah dijaga sejak dahulu kala. █


Comments

No comments yet.

Add Comment

* Required information
(never displayed)
 
Smile Sad Huh Laugh Mad Tongue Crying Grin Wink Scared Cool Sleep Blush Unsure Shocked
 
2000
Captcha
Refresh
 
Enter code: