Home >>Blog >Rumah Ibadah

Terry Endropoetro's avatar

Astana Gunung Jati, Pemakaman 'Kelas Tinggi'

Saat itu sudah menjelang tengah malam, tapi lampu-lampu di deretan kios-kios masih menyala terang. Memajang barang-barang untuk berziarah, mulai buku-buku doa dan tasbih hingga kembang dan minyak wangi. Tak sedikit pula yang menjual kemenyan dan benda pusaka.

Ini pemandangan biasa di Astana Gunung Jati, komplek pemakaman Sunan Gunung Jati dan keluarga keraton Cirebon yang selalu terbuka 24 jam bagi siapa pun yang hendak berziarah. Keramaian akan memuncak pada malam Selasa, malam Jumat Kliwon, Maulud Nabi, dan hari-hari tertentu pada penanggalan Islam.

Kebanyakan para lelaki yang berziarah mengenakan baju koko, sarung, dan peci. Sedangkan para wanita mengenakan baju tertutup, menggunakan hijab atau kerudung sebagai penutup kepala. Sebagai wisatawan, rasanya pakaian yang saya kenakan cukup sopan. Yang penting tidak menggunakan celana pendek maupun baju tanpa lengan.

TRADISI ZIARAH
Sebuah gapura menjadi pintu masuk para peziarah. Melewati sebuah sumur yang merupakan salah satu dari 7 sumur keramat di wilayah Cirebon. Air sumur dialirkan ke beberapa gentong dari tanah merah, digunakan untuk berwudlu bahkan mandi pada hari-hari tertentu.

Puluhan alas kaki berserakan di depan pintu masuk serambi pemakaman. Pertanda tak diperkenankan mengotori tempat yang dianggap suci. Piring-piring porselen bermotif dengan warna-warna cerah 'ditanam' di dinding serambi yang berwarna putih. Gaya hiasan serupa juga bisa ditemukan di keraton Kasepuhan dan Kanoman ini tampakya karena pengaruh perkawinan Sunan Gunung Jati dengan puteri Ong Tien dari Tiongkok pada 1481. Tak hanya piring porselen, tapi guci-guci keramik dari zaman dinasti Ming pun masih tersimpan di komplek pemakaman. Sebagian masih digunakan sebagai tempat air untuk berwudlu.

Para peziarah duduk bersimpuh di serambi. menghadap sebuah pintu kayu yang disebut pintu Pasujudan. Pintu ini merupakan pintu ketiga dari sembilan pintu yang masing-masing memisahkan pemakaman para raja, ratu, dan pangeran dari kaki bukit hingga puncak tempat makam Sunan Gunung Jati berada. Semua pintu terbuat dari kayu yang masing-masing diberi nama, yaitu pintu Gapura, Krapyak, Pasujudan, Ratnakomala, Jinem, Rararonga, Kaca, Bacem, dan Teratai.

Dalam komplek pemakaman ini tersebar pula ratusan makam keluarga bangsawan dan orang-orang yang sudah mengabdi sepenuh hati. Pintu-pintu tersebut hanya dibuka bagi keluarga keraton dan keturunannya, untuk waktu-waktu tertentu boleh dilewati petugas makam, dan para kuncen (juru kunci).

Suara para peziarah melantunkan berdoa kepada Sang Pencipta, melantunkan tahlil, tahmid, tasbih, tahmid, takbir, shalawat Nabi, dan beberapa surat dari kitab suci Alqur'an. Tak hanya berdoa, banyak peziarah yang menginap dan tidur di antara makam, sehari-dua bahkan seminggu lamanya dengan maksud mendekatkan diri pada Yang Kuasa.

SUNAN GUNUNG JATI
Terlahir dengan nama Syarif Hidayatullah, putera dari perkawinan Nyi Ratu Rarasantang (puteri Prabu Siliwangi) dengan Syarif Abdillah, penguasa kota Isma'illiyah di Timur Tengah. Ketika ayahnya mangkat, Syarif Hidayatullah sebagai putera mahkota, menyerahkan kekuasaan kepada adiknya, Syarif Nurullah. Syarif Hidayatullah memilih menemani ibundanya kembali ke Caruban.

Oleh Pangeran Cakrabuana (kakak Rarasantang) keduanya diberi tempat tinggal di Gunung Sembung sembari berdakwah menyebarkan ajaran-ajaran Islam. Dinikahkan dengan Nyi Ratu Pakungwati (putri dari Pangeran Cakrabuana), Syarif Hidayatullah pun menggantikan mertua sekaligus pamannya yang meninggal pada 1479.

Dalam perjalanan dakwahnya, Syarif Hidayatullah menikah dengan Nyi Ratu Kawunganten (puteri dari Banten). Kabar Caruban sebagai negeri yang menyebarkan ajaran-ajaran Islam pun terdengar di seantero kerajaan Pajajaran hingga ke Demak. Disebut sebagai penetap panata gama Rasul tanah Pasundan, Syarif Hidayatullah pun menjadi pelengkap dari Sembilan Wali penyebar ajaran Islam dan diberi gelar Sunan Gunung Jati.

MENJAGA PESAN SUNAN
Di sudut-sudut komplek pemakaman banyak kotak kayu dan wadah yang terbuat dari kuningan. Uang-uang logam dan lembaran uang kertas yang berserakan di dalamnya merupakan sedekah dari para peziarah. Konon sebelum wafat Sunan Gunung Jati pernah berkata, "Ingsun titip tajuq lan fakir miskin (Saya titipkan masjid/musholla dan fakir miskin)." Agar keturunannya tak lupa mendirikan sholat dan berzakat.

Wasiat itu disampaikan turun-temurun, namun untuk sebagian orang menerima sedekah disalahartikan menjadi meminta-minta yang kemudian bahkan dijadikan sebagai mata pencaharian. Bila Anda hendak bersedekah, sebaiknya letakkan uang sedekah pada kota atau wadah yang disediakan. Hal ini untuk menghindari kerumuman peminta-minta, bila Anda memberi langsung pada seseorang di antara mereka.

Di dekat pintu masuk serambi tampak para penjaga makam yang mengenakan kain sarung dan ikat kepala. Walau hanya tampak beberapa orang saja, sebenarnya jumlah mereka ada 108 orang. Jumlah tersebut bermula dari kejadian ditangkapnya sebuah perahu milik kerajaan Keling (Kalingga), yang terdampar di wilayah Caruban, di masa Syarif Hidayatullah berkuasa. Nahkoda dan awak kapal yang berjumlah 108 orang itu menyerahkan diri dan menyatakan mengabdi pada Syarif Hidayatullah dan keturunannya. Sejak itu jumlah penjaga makam Astana Gunung Jati tak pernah berubah, tak sembarang orang pula bisa menggantikan mereka. Hanya anak, cucu, serta kerabat, itu pun atas persetujuan Sultan. Hal ini menunjukkan betapa kuatnya keterikatan dan tanggung jawab yang mereka jaga. █

──────────────────

Perjalanan bersama para blogger (Jakarta, Cirebon, dan Indramayu) ini terlaksana atas undangan Kementerian Pariwisata Indonesia. Foto-foto juga diposting di twitter dan instagram dengan hastag #PesonaCirebon #PesonaIndonesia


Comments (1)

Topic:
Sort
0/5 (0)
Gravatar
ain says...
kerenn Kaka Teryy..

Add Comment

* Required information
(never displayed)
 
Smile Sad Huh Laugh Mad Tongue Crying Grin Wink Scared Cool Sleep Blush Unsure Shocked
 
2000
Captcha
Refresh
 
Enter code: