Home >>Blog >Iklan Moral

Terry Endropoetro's avatar

Boleh Eksis tapi Jangan Merusak Alam

"Pemandangan bagus di awal musim hujan. Mampiro, sini kak...!" begitu isi tweet di akhir perbincangan dengan admin @kangenyogya yang pada akhir November tahun lalu berbaik hati mengirimi foto hamparan bunga amarilis berwarna oranye kemerahan di desa Ngasemayu, Pathuk, Gunungkidul, Yogyakarta.

Berselang dua malam, admin @kangenyogya mengirimi lagi foto di lokasi yang sama, namun pemandangannya sudah jauh berbeda. Kebun bunga itu dipenuhi wisatawan. Tampaknya mereka datang bukan hanya untuk mengagumi keindahan meainkan sekadar menunjukkan eksistensi dengan ber-swafoto dengan beragam gaya. Mulai dari berjalan menginjak bunga, berjongkok, sampai rebahan di antara bunga. Jelas para wisatawan kagetan ini tak peduli kelakuan mereka yang meninggalkan kerusakan amat sangat.

Melihatnya saja membuat saya dongkol luar biasa. Beberapa kicauan pun saya lontarkan di twitter, salah satunya adalah "Cara bodoh berwisata!" dengan beberapa foto mereka yang saya unduh dari media sosial. Tak lupa menyertakan tagar #SaveAmaryllis di akhir kicauan seperti yang diinfokan oleh Bobby Visca, seorang penyiar @StarYogya.

Kontan timbul niatan membuat #iklanmoraluntukbangsa. Ide gambar dan pesan langsung muncul di kepala. Tapi karena hari sudah lewat tengah malam, saya putuskan untuk tidur. Lagi pula membuat desain dalam keadaan emosi dan lelah terkadang malah memperlampat proses pengerjaan sebuah desain.

Kaget juga saat pagi hari melihat ada lebih dari 180 notification di akun twitter saya. Hiiiiih, kok bisa begitu? Banyak tanggapan yang sepikiran dengan saya, tapi seperti biasa ada juga yang mencari-cari kesalahan isi kicauan saya bahkan tampaknya memancing untuk twitwar. Hadeuuuh....

Desain yang saya targetkan jadi dalam 2 jam tidak tercapai. Selain merasa belum 'sreg' pada gambar yang dikoreksi berkali-kali, dentingan dari pesan twitter dan wahtsapp pun kerap membuyarkan konsentrasi. Untunglah #iklanmoraluntukbangsa akhirnya bisa selesai menjelang tengah hari, dan langsung saya sebarkan di twitter, facebook, fanpage, dan instagram. Ah, lega rasanyaaa!

Sosial media yang hingar bingar terkadang seperti buah simalakama. Keindahan kebun bunga yang disebarkan dengan tujuan baik, ternyata disalahtanggapi oleh sebagian orang. Membuat Sukadi, tak kuasa menahan ribuan orang yang datang berbondong-bondong mengunjungi kebun bunganya. Walaupun sudah memasang tulisan 'HATI-HATI BUNGA TERINJAK', beliau tak berdaya melihat para wisatawan kagetan riang gembira gigih menerobos jajaran tanaman berbunga walau tak ada jalanan setapak.

Beberapa wisatawan kagetan yang tampaknya masih muda belia mengunggah foto-foto mereka di media sosial, menyatakan tak ada sesal telah menginjak bunga-bunga itu, karena toh mereka sudah membayar Rp5.000 sebagai tiket berkunjung. Menurut saya, bayar atau tidak ya jangan di rusak, kan kebun bunga itu milik pribadi seseorang, yang bibit dan bunganya dijual untuk menafkahi hidup.

Ada pula yang menyalahkan si pemiliki kebun karena tak dibuatkan jalan setapak. Lhooo, ini juga aneh. Kalau memang sudah tahu tak ada jalaur untuk berjalan di tengah kebun, mengapa ngotot menerobos? Apa kurang puas menikmati dari kejauhan? Coba orang ini disuruh mendaki gunung dan berjalan di tengah hutan tanpa jalur yang pasti? Seberani itu jugakah dia?

Sudah bisa ditebak, membanggakan sesuatu yang salah melalui media sosial akan berbalas hujatan dan makian. Yang saya tak habis pikir adalah sebenarnya apa yang mereka harapkan untuk masa depan, bila di usia muda mereka tak mengasah kepekaan pada lingkungan dan alam sekitar? █


Comments

No comments yet.

Add Comment

* Required information
(never displayed)
 
Smile Sad Huh Laugh Mad Tongue Crying Grin Wink Scared Cool Sleep Blush Unsure Shocked
 
2000
Captcha
Refresh
 
Enter code: