Home >>Blog >Jalan-jalan

Terry Endropoetro's avatar

Rumah Alang Sumba di Pantai Walakiri

Rumah khas Sumba terkenal dengan bentuk atap yang tinggi dilapisi alang-alang. Tapi tak semuanya begitu. Ada juga rumah tinggal dengan bentuk sederhana, bahkan pembangunannya pun tak didahului upacara.

Rumah alang, begitu sebutannya karena atapnya ditutup lapisan alang-alang (rumput kering). Rumah berbentuk persegi dengan sisi atap miring membentuk segitiga ini menjadi rumah masyarakat Sumba dari 'golongan biasa'. Tiang, lantai, dan dindingnya dibuat dari kayu dan bambu. Hanya ada 1 pintu di bagian depan, tanpa jendela.

Rumah-rumah ini banyak sekali ditemui dalam perjalanan melintasi Sumba Barat Daya, Sumba Barat, Sumba Tengah, menuju Sumba Timur. Di kampung-kampung, di tengah kebun, juga di pinggir pantai. Seperti yang tak sengaja saya temukan di pantai Walakiri, Sumba Timur.

Frans Homa atau Opa Frans, begitu ia biasa dipanggil, tersenyum lebar memperlihatkan deretan giginya yang merah akibat kebiasaan mengunyah sirih pinang. Tangannya melambai mengajak saya mendekat. Kemudian ia melanjutkan berjongkok menyelesaikan anyaman bambu yang akan dijadikan dinding rumah alang yang sedang dibuatnya.

"Sudah dua bulan rumah ini saya buat. Lama selesainya, karena saya kerjakan sendiri," kata nelayan berusia 72 tahun ini yang sudah beberapa bulan tak melaut karena mesin kapalnya rusak. "Yang penting dikerjalan dengan tekun dan sabar saja. Supaya bisa berdiri kokoh," lanjutnya.

Opa Frans melakukannya sendiri. Mulai menggali pasir, membuat pondasi, memotong kayu pohon kelapa dan mengukurnya dengan presisi yang tepat, sampai memahat kayu membuat lubang sambungan, semua dibuat dengan peralatan sederhana.

Hanya saja, saat harus menegakkan tiang-tiang penyangga rumah yang sudah dipasang saling berpaut, Opa Frans dibantu seorang keponakan lelaki dan dua anak perempuannya. Begitu juga saat menempelkan anyaman bambu sebagai dinding, Opa Frans meminta cucunya membantu.

"Kami perempuan-perempuan harus bantu Opa. Opa suruh pegang tiang yang sana, kami lari ke sana. Opa suruh pegang tiang yang sini, kami lari ke sini," kata Adriana Homa, salah satu anak Opa Frans, sambil tertawa saat menceritakan bagaimana hebohnya ia bersama saudaranya menegakkan tiang-tiang kayu kelapa.

Sebagai penutup atap, Opa Frans harus membeli alang-alang seharga Rp15.000 per ikat. Untuk atap rumah sepanjang 6 meter, sebanyak 120 ikat alang yang dibutuhkan. Dibagi-bagi lagi kemudian diikat dalam ikatan-ikatan kecil. Disangkutkan berderet pada kayu yang menyilang di atap.

Daun kelapa juga digunakan sebagai pelapis atap, tapi dipasang di bagian bawah saja, karena daun kelapa lebih cepat rusak terkena panas dan hujan, sementara alang-alang bisa bertahan puluhan tahun lamanya. Menurut pengakuan Opa Frans, atap alang-alang rumah yang ia tempati bersama keluarganya sudah 30 tahun masih belum rusak dan tidak pernah bocor sekalipun diterpa angin dan hujan deras.

Tapi ternyata, sekarang alang-alang makin sulit didapat, atau boleh dibilang makin jarang orang yang menjualnya. Bukan tidak ada, tapi makin sedikit peminat. Entah karena alasan tahan lama atau bukan, yang jelas di Sumba makin banyak rumah kayu dibangun dengan penutup atap berupa lembaran seng sebagai pengganti alang-alang.

Opa Frans tinggal bersama istrinya,Ferderika Homa, 2 dari 4 anaknya tinggal bersama. Rumah alangnya di pantau Walakiri diramaikan 3 dari 10 orang cucunya.

Pembuatan rumah alang yang baru di pinggir pantai disetujui seluruh keluarga. Bukan untuk ditinggali, tapi untuk disewakan bila ada wisatawan yang ingin menginap atau hanya sebagai tempat berkumpul dan makan siang. Walau belum jadi, rumah alang ini beberapa kali dijadikan tepat berteduh para wisatawan bila tiba-tiba hujan datang.

"Banyak wisatawan yang datang siang-siang dan minta izin untuk sembahyang di sini. Silakan saja," kata Oma Ferderika, "Kita semua punya Tuhan masing-masing toh, jadi saling menghormati saja."

Dari obrolan beberapa jam saja, saya bisa melihat bahwa keluarga Opa Frans adalah pekerja keras, ramah, berfikiran terbuka, dan menjunjung toleransi. Walau dalam keadaan ekonomi sangat terbatas, mereka berusaha keras mengajarkan pada anak-cucunya untuk selalu menjaga tata krama dan bersikap santun kepada orang lain.

Opa Frans sebenarnya lahir di Pulau Sabu. Nenek moyangnya berasal dari sana dan hijrah ke Sumba. Walaupun bukan orang Sumba asli, Opa Frans menyimpan harap agar generasi penerus tetap peduli pada rumah-rumah tradisional.

Menurutnya, generasi muda yang lahir dan hidup, juga makan dari hasil tanah Sumba yang seharusnya mempertahankan rumah-rumah tradisional tetap tegak di tanah Sumba. Memegang teguh mahakarya yang diciptakan oleh tangan-tangan nenek moyang mereka. █

RUMAH ALANG OPA FRANS HOMA
Jl. Pantai Melolo, Pantai Walakiri Km.23 Rt01/Rw01
Kel. Watumbaka, Kec. Pandawai
Waingapu, Sumba Timur 87114
Telepon: 0823 3140 6215 (Adriana)
Harga inap: Rp100.000orang/malam

──────────────────

Perjalanan mengeksplore Sumba (20 - 24 Oktober 2017) ini terselenggara atas dukungan #MahakaryaIndonesia. Foto-foto juga diposting di twitter dan instagram dengan hastag #MahakaryaIndonesia


Comments (2)

Topic:
Sort
0/5 (0)
Facebookdel.icio.usStumbleUponDiggGoogle+Twitter
Gravatar
vira says...
jadi, bahan alang-alang itu kayaknya kekurangannya cuma satu ya, yaitu kalau sampe kesambar api, kelar.. hiks.
Gravatar
Terry Endropoetro says...
Iya. Tapi kalau di uma menara mereka tetap menempatkan dapur di dalam rumah ya. Deg2an nggak tuh

Add Comment

* Required information
(never displayed)
 
Bold Italic Underline Strike Superscript Subscript Code PHP Quote Line Bullet Numeric Link Email Image Video
 
Smile Sad Huh Laugh Mad Tongue Crying Grin Wink Scared Cool Sleep Blush Unsure Shocked
 
2000
 
Notify me of new comments via email.