Home >>Blog >Jalan-jalan

Terry Endropoetro's avatar

Peluk-peluk Gajah di Taman Satwa

Ketika ditawari ke Lembah Hijau, bayangan saya hanya akan melihat panorama alam, gunung, dan hutan belantara. Ternyata di sana malah bertemu dengan banyak satwa, mulai burung sampai gajah.

Taman Wisata Lembah Hijau berada di Tanjung Karang Barat, hanya 20 menit dari pusat kota Bandar Lampung. Tempat yang dikenal sebagai taman rekreasi kekuarga, dengan berbagai wahana dan juga Taman Satwa.

Walau berada dalam satu kawasan, Taman Satwa sengaja dibangun menjauh dari keriuhan. Tempat inilah yang saya dan teman-teman datangi. Beruntung hari itu Irwan Nasution, pemilik Taman Wisata Lembah Hijau ada di sana. Menyambut kami dengan senyum lebar dan jabat tangan erat.

BELAJAR SAMBIL JALAN-JALAN
Taman Satwa seluas 15 hektar ini sudah dibuka 10 tahun yang lalu. Memiliki 84 jenis satwa, seperti orangutan, owa Sumatera, beruang madu, kangguru tanah, binturong, kambing gunung, rusa Timor, buaya Irian, dan tentunya ada gajah Sumatera. Burung saja ada 28 jenis burung. Sebagian besar berada di Bird Park, yang memiliki doom (sangkar burung yang berbentuk setengah lingkaran) setinggi 14 meter.

Melihat teman-teman lain berfoto dengan burung beraneka warna, saya pun tergoda untuk mencoba. Tidak bisa tidak, selama berfoto, saya berdoa jangan sampai si burung iseng buang kotoran di lengan saya. Ha.... ha.... ha.... ha....

Tak semua burung berada di dalam Bird Park. Burung Pelikan malah dibiarkan bebas di pulau buatan yang dikelilingi kolam. Mereka tidak beterbangan, tapi asik merapikan bulu-bulu dengan paruh mereka.

"Kolam itu bersih, tapi airnya sengaja dibuat tidak jernih. Karena kalau jernih, burung Pelikan malah menjauh dari air," kata Ibransyah Rasyid, dokter hewan yang sudah 7 tahun merawat para penghuni Taman Satwa.

Mungkin ada hubungannya kebiasaan burung Pelikan yang suka 'berdandan'. Kalau airnya jernih mereka tak bisa bercermin karena bulu mereka yang berwarna putih jadi tidak terpantul dengan baik. Narsis, ya....

Pengunjung bisa berjalan-jalan di Taman Satwa tanpa pemandu. Karena, di depan setiap kandang ada papan berisi keterangan jenis hewan, habitat, jenis makanan, dan status konservasi. Sedih rasanya mengetahui bahwa sebagian besar jenis hewan di taman ini dalam keadaan terancam kepunahan.

Di beberapa tempat dipasang juga papan edukasi. Di setiap papan tertulis sebuah pertanyaan dan katup-katup bergambar yang bisa dibuka untuk mencocokkan jawaban.

Tapi, kalau saya memilih menggunakan jasa pemandu. Apalagi bila fasilitas ini disediakan secara cuma-cuma. Dengan pemandu, kita bisa bertanya banyak hal dengan begitu jadi lebih banyak tahu. Seperti mengapa saat melihat seekor Rusa Timor yang terus-menerus menjilati batang bambu yang digantung. Ternyata bambu iti adalah tempat minumnya. Air di dalamnya sudah dicampur garam. Mineral yang juga dibutuhkan satwa.

"Semua diberi makan cukup, dan tetap diajarkan sesuai sifat hewaninya," kata Ibransyah, menjawab kekhawatiran saya tentang keberadaan kebun binatang di Indonesia. Selama ini Taman Satwa Lembah Hijau bekerja sama dengan BKSDA (Balai Konservasi Sumber Daya Alam). Tiap 3 bulan ada harus mengirimkan laporan, jumlah hewan yang mati, lahir, sakit, sedang menjalani perawatan, juga daftar vaksinasi yang diberikan.

Ketika mampir di kandang beruang madu. Ibransyah melempar dua buah kelapa. Salah satu dari 3 beruang madu langsung menangkapnya. Mengupas kulit kelapa dengan gigi dan kukunya yang tajam. Tak sampai 5 menit ia sudah membuat lubang pada batok kelapa. Lalu berguling di tanah, asik meminum air kelapa.

"Apa beda kera dengan monyet?" tanya Ibransyah. Saya dan teman-teman menjawab asal-asalan. Ternyata selain ukuran, pembedanya adalah ekor. Kera (apes) tak memiliki buntut. Contohnya orangutan. Sifatnya pun mirip dengan manusia. Seperti Tinem yang langsung berpose saat melihat ada kamera menyorot padanya, dan Medan yang berelantungan cari perhatian.

GAJAH & GANCU
Saya bersemangat sekali ketika melihat 4 gajah sedang berdiri di kandang besar terbuka yang dinaungi atap. Ibransyah memperkenalkan kami pada para mahout (pawang) yang sedang duduk beristirahat. Suparman, Panjang, Apriyanto, dan Fikri, masing-masing bertanggung jawab merawat Aris (23), Mega (20), Lis (21) dan Ajung (19). Mulai memandikan dan memberi makan.

Setiap harinya gajah memerlukan 200 - 250 kilogram asupan makanan berupa jerami, rumput, pelepah kelapa, buah2an, dan dibuatkan bubur dari kacang hijau, jagung, beras, dan gula merah. Wah, kok enak, ya? Saat makan biasanya gajah dirantai di salah satu kaki. Karena kalau tidak, sesuai naluri alami, gajah yang besar akan mengambil jatah makanan gajah yang kecil. Bisa riuh nanti kalau berebutan makanan.

Selain makan banyak, hewan besar ini diharuskan 'senam'. Yang dimaksud adalah menggerakkan telinga, mengangkat satu kaki, duduk, dan berbaring agar otot-otot mereka tidak kaku.

Para mahout selalu memegang sebuah gancu, semacam palu yang hanya digunakan di saat perintah ucapan dan sentuhan sdh tidak didengar atau dipatuhi oleh gajah. Bagaimana pun gajah tetap hewan liar yang sewaktu-waktu bisa berontak. Para mahout tidak akan megambil resiko, apalagi bila gajah harus berintrakasi dengan pengunjung.

SAMBIL MANDI MINUM AIR
Para gajah dimandikan setiap pagi dan sore hari. Siang hari biasanya mereka dilepas, lalu mereka akan berjalan-jalan dan merumput di area bermain mereka. Tidur pun mereka di sana. Tidak lepas? Tidak. Para gajah tahu dan tidak akan mendekati pagar pembatas yang berupa kawat beraliran listrik sebagai pengaman.

Selain lapangan rumput yang luas, ada kolam lumpur tempat para gajah berendam siang-siang mendinginkan badan. Jadi tahu kan dari mana asalnya perawatan masker lumpur ha... ha.... ha... ha....

Girang buka kepalang ketika kami boleh ikut memandikan gajah. Walaupun tadi pagi para gajah sudah mandi tapi tampaknya mereka sukarela main air lagi. Saat mandi, gajah-gajah dalam posisi berguling. Dengan begitu, lebih mudah bagi mahout membersihkan badan gajah. Disiram dan disikat adalah salah satu bentuk rasa sayang pada gajah.

Saya kebagian memandikan Mega. Sesekali belalainya memainkan selang, minta air dikocorkan melalui lubang hidungnya. "Boleh diajak ngobrol, mbak," kata Panjang, mahout Mega sambil menyodorkan sikat pada saya. Jadilah akhirnya saya ngobrol dengan Mega, mulai basa-basi sampai curhat ha.... ha.... ha.... ha....

Gajah berbicara melalui mata, begitu yang saya ingat dari film The Lengend of Tarzan. Perilaku seekor gajah mencerminkan bagaimana mahout memperlakukannya. Rasa haru datang ketika harus berpisah dengan Mega. Saya peluk-peluk belalainya. Saya tempelkan tangan dan kepala ke belalainya sambil berbisik, "Gajah, semoga usiamu panjang. Cukup makan dan bahagia."

TAMAN WISATA LEMBAH HIJAU
Jl. Radin Imba Kesuma Ratu
Tanjung Karang Barat, Bandar Lampung
Jam buka: 09.00 - 17.00 WIB
Harga:
Tiket masuk:
Rp25.000/orang
Interaksi dengan gajah:
Rp50.000 - Rp1.500.000

---------------------------------------------

Perjalanan pada Agustus 2017 bersama blogger, fotografer, instagramer, dan youtuber ini merupakan kerjasama Dinas Pariwisata Lampung dan Genpi Lampung. Foto-foto juga ditampilkan di twitter dan instagram dengan hashtag #LampungKrakatauFestival #LampungKrakatauFestival2017


Comments (5)

Topic:
Sort
0/5 (0)
Facebookdel.icio.usStumbleUponDiggGoogle+Twitter
Gravatar
ariefpokto says...
wah, pengalaman seperti ini yang mahal harganya. sayang sekali ada urusan di Jakarta jadi tidak bisa ikutan mandiin gajah
Gravatar
Rasyid Ibransyah says...
Thaks tulisannya mba terry...
Jadi pengen belajar nulis juga
Gravatar
Terry Endropoetro says...
Terima kasih banyak sudah diajak jalan-jalan
Gravatar
Terry Endropoetro says...
Sehat dan cukup makan. Itu juga berkali-kali gue tanya ke dokter hewannya dan gue lihat sendiri jerami buat makanan gajahnya menggunung.

Add Comment

* Required information
(never displayed)
 
Bold Italic Underline Strike Superscript Subscript Code PHP Quote Line Bullet Numeric Link Email Image Video
 
Smile Sad Huh Laugh Mad Tongue Crying Grin Wink Scared Cool Sleep Blush Unsure Shocked
 
2000
 
Notify me of new comments via email.