Home >>Blog >Iklan Moral

Terry Endropoetro's avatar

Mari (Biasakan) Saling Menyapa

"Oh, ibu dan ayah selamat pagi, kupergi sekolah sampailah nanti. Selamat belajar, nak penuh semangat, rajinlah selalu tentu kau dapat. Hormati gurumu sayangi teman, itulah tandanya kau murid budiman."

Itu syair lagu anak Indonesia, tentang budi pekerti dan sopan santun yang dijunjung tinggi. Murid sekolah selalu berlomba menyapa guru terlebih dulu. Bukan berharap tambahan angka, bukan karena ingin diperhatikan, namun memang sudah diajarkan begitu.

Dunia berputar cepat, sampai akhirnya lagu itu sudah jarang didendangkan, tak lagi memiliki arti dan bukan menjadi pilihan lagu anak-anak masa kini. Jangankan menyapa orang yang lebih tua, menyapa sesama pun sering terlupa, kesibukan pun dijadikan alasan utama. Banyak orang menganggap tak perlu bertegur-sapa saat bertemu, apalagi bila tak ada kepentingan, takut nanti dianggap sebagai pengganggu. Sebagian lagi baru balik menyapa bila sudah disapa lebih dahulu.

Teringat cerita tentang seorang nyonya petinggi, pemilik sebuah perusahaan besar di ibukota. Suatu kali sang nyonya bertanya mengapa tak ada karyawan yang mau menyapanya. Mungkin nyonya tak ingat, berpuluh tahun nyonya tak pernah menyahut bila anak buahnya menyapa atau memberi salam saat berjumpa. Turun dari mobil dagu nyonya selalu terangkat tinggi, diiringi muka masam karena supir salah 'ambil jalan'. Lama-lama bila tampak nyonya mendekati pintu, semua anak buah langsung ambil langkah seribu. Enggan berpapasan karena takut terkena bentakan kemarahan tanpa alasan. Lantas mengapa baru saat usia sudah senja tiba-tiba nyonya minta disapa?

Menyapa orang lain itu memiliki makna, bahwa kita menghargai mereka. Menyapa itu memerlukan keikhlasan, tak mengharapkan imbalan apa-apa. Sekadar mengucapkan salam atau basa-basi menanyakan khabar. Bisa dilakukan selintas, sambil berjalan, bahkan sambil berlari. Terkadang malah tak harus dengan bertegur-sapa, lambaian tangan dengan senyuman atau sedikit anggukan kepala pun sudah merupakan tanda.
Jadi tetaplah berbesar hati walau yang disapa tak balik bereaksi. Pasti ada alasannya mengapa mereka tak balas menyapa, seperti nyonya petinggi di kantor tadi.

Namun tak jarang juga kita salah menyapa, dikira teman ternyata entah siapa. Kalau sudah begitu, daripada malu keluarkan saja jurus jitu. Minta maaf, atau malah berkenalan kalau perlu. Dan bertambahlah satu teman baru, ini yang bikin hidup jadi seru! █


Comments (2)

Topic:
Sort
0/5 (0)
Gravatar
Fathanisme says...
Bangsa Indonesia memang identik dengan keramahannya. Selain jiwa gotong-royong, salah satunya saling menyapa. Tapi di zaman sekarang ketika kita mencoba berkenalan atau menyapa orang lain siap-siap aja dibilang SKSD (Sok Kenal Sok Dekat), Modus, atau dicurigai sebagai penjahat. Padahal waspada dengan su\'udzon itu dua hal yang berbeda. Meski begitu jangan sampai kita melupakan karakter ini yang menjadi ciri khas dan akar dari keharmonisan. Jangan terlalu individualistis karena sejatinya ... Read More
Gravatar
terry endropoetro says...
Saking banyaknya kejahatan di sekitar kita. Mungkin karena berdasarkan kecurigaan, akhirnya jadi tak peduli pada sesama. Tapi paling tidak (kalau memang mau) kita tak melupakan menyapa orang-orang terdekat. Mulai berpapasan dengan tukang sayur langganan walaupun tak beli, atau sekadar angkat tangan pada satpam komplek. Ala bisa karena biasa :D

Add Comment

* Required information
(never displayed)
 
Smile Sad Huh Laugh Mad Tongue Crying Grin Wink Scared Cool Sleep Blush Unsure Shocked
 
2000
Captcha
Refresh
 
Enter code: