Home >>Blog >Jalan-jalan

Terry Endropoetro's avatar

Menyelaraskan Alam di Kawasan Mangrove Karangsong

Ini pengalaman pertama saya mampir ke sebuah rumah dan disodori sajian biji-bijian berwarna hitam, yang ukurannya lebih besar dari kedelai, dan warnanya hitam seperti kopi.

Barulah saya tahu bahwa biji-bijian yang rasanya sedikit pahit itu adalah biji mangrove, tanaman yang dikenal sebagai 'penjaga' tepian laut. Di pesisir kota Indramayu, pengolahan biji mangrove dilakukan di Rumah Berdikari, desa Karangsong.

Usaha kelompok tani binaan PT Pertamina RU VI Balongan ini, memproduksi beragam hasil olahan mangrove, seperti rempeyek, dodol, sirop, hingga kecap yang diberi merek dagang Jackie Gold. Dijual dengan kisaran harga antara Rp5.000 - Rp20.000 dalam kemasan yang cukup apik.

PANAS-PANASAN DI SUNGAI
Kalau tadi mencicipi olahan biji mangrove, selanjutnya saya dan teman-teman melanjutkan perjalanan ke pantai Karangsong. Menyusuri anak sungai Cimanuk yang bermuara di laut Jawa, menuju Kawasan Ekowisata Mangrove (hutan bakau) Karangsong.

Kawasan konservasi ini diprakarsai dan dikelola oleh kelompok Tani Lestari sebagai salah satu usaha mengatasi abrasi pantai dari hantaman ombak laut utara Jawa. Sejak 2008 kawasan ini mulai ditanami dengan tananan mangrove. Dan setelah beberapa tahun, mulailah tampak hasilnya.

Tak ada jalan lain untuk memasuki kawasan mangrove, kecuali menyeberang dengan perahu. Harga sewa perahu sudah termasuk tiket masuk, yaitu Rp15.000 per kepala dan dibayar di pos penyeberangan.

Hari itu bukan hari libur, jadi kami tak perlu mengantre dan bisa langsung naik perahu motor. Saya berada di sisi kiri perahu. Duduk paling pinggir dengan resiko kulit terbakar sengatan teriknya matahari.

Perahu melaju dengan kapasitas 20 orang. Menyusuri sungai di pinggir hutan mangrove. Suasana tenang sekali. Kecuali suara mesin yang menderu. Semua penumpang tak ada yang berbicara, entah menikmati pemandangan atau tegang karena baru kali pertama naik perahu.

Sesekali perahu memelankan laju, menepi, memberi jalan perahu dari arah depan. Tak sampai 15 menit, perahu bersandar di sebuah dermaga dengan gapura kayu bertulisan: 'Selamat datang di Kawasan Arboretum Mangrove'. Ada monumen kecil terbuat dari logam berbentuk dua tangan menengadah mengangkat pohon mangrove. Di bagian bawahnya terpasang logo PT Pertamina (Persero).

Di sinilah, PT Pertamina pada 2010 ikut membantu penanaman 5.000 bibit mangrove. Pada 2012, dilakukan lagi penanaman 10.000 bibit. Dan pada 2015 tidak hanya bibit mangrove, tapi juga bibit ketapang, cemara, dan widuri laut. Bibit-bibit pohon mangrove ditanam di kanan kiri jalan tanah dari dermaga sampai ke pinggiran pantai. Setiap pohon diberi papan dengan nama latin serta nama Indonesianya.

BERAYUN DI JEMBATAN BAMBU
Tak berhenti hanya dengan memberikan bibit mangrove, PT Pertamina terus mendampingi masyarakat menjaga kawasan hutan mangrove dengan memberikan pelatihan pemandu wisata untuk pengembangan ekowisata Mangrove Karangsong. Salah satunya adalah pengemudi perahu yang ikut menemani saya ke kolam bandeng yang dibuat di kawasan itu. Ia menjelaskan tentang kolam, tanaman mangrove, garis pantai, dan banyak lagi.

Kawasan mangrove ini juga bisa dinikmati dengan berjalan kaki melalui jalur khusus sepanjang 1,2 kilometer yang dibuat 'menembus' dan mengitari hutan mangrove. Jalurnya terbuat dari bambu. Tingginya sekitar 2 meter dari permukaan tanah, agar pengunjung tetap bisa melintas saat air laut pasang dan menggenangi hutan mangrove.

Lintasannya bukan berupa bilah bambu yang disusun, melainkan bambu yang dianyam. Tampilannya jadi mirip tikar memanjang. Awalnya takut-takut saya berjalan melintas. Karena setiap pijakan membuat anyaman bambu berayun. Tapi pastinya konstruksi dan kekuatan tiang-tiang bambu yang ditanam sudah diperhitungkan.

Mengapa bambu? Bukan papan kayu atau jembatan yanh terbuat dari batu? Karena bambu lebih menyatu dengan alam, sesuai dengan konsep ekowisata. Bambu mudah didapat di daerah sekitar, sehingga bila ada bagian jembatan yang rusak akan dengan mudah diganti, sekaligus memberi pekerjaan pada para pengrajin bambu.

JALAN-JALAN SAMBIL BELAJAR
Selama berjalan menembus hutan mangrove, saya melihat banyak tempat sampah yang sengaja digantung di batang pohon. Karena kawasan mangrove ini dikelola bukan hanya untuk tempat rekreasi. Tapi juga sarana edukasi. Diharapkan semua pengunjung yang datang, bisa membawa pulang ilmu yang berharga.

Yang jelas hasil jerih payah menanam hutan mangrove mulai tampak. Kawasan seluas 50 hektar di muara sungai yang dulu terkikis abrasi kini malah menjadi kawasan ekosistem baru. Menjadi tempat berlindung ikan-ikan yang bertelur dan menjadi rumah bagi puluhan jenis burung.

Boleh dibilang, kawasan mangrove ini sangat berperan pada meningkatnya kesejahteraan masyarakat di sana. Selain itu mengajarkan pada semua bahwa menjaga kelestarian alam sangatlah penting. Karena menjaga keselarasan dengan alam adalah tanggung jawab kita bersama. █

Bagaimana ke sana?
Belum ada kendaraan umum menuju ke Kawasan Mangrove Karangsong. Bila berkunjung sebaiknya membawa kensaraan sendiri

Berapa harga tiket masuk?
Rp15.000 per kepala, sudah termasuk perahu penyeberangan (drop off) dan berlaku dari jam 09.00 - 17.00 WIB.

Perlu bawa bekal?
Ya. Karena tidak ada penjual makanan dan minuman di dalam kawasan hutan mangrove. Tapi ingat! Jangan membuang sampah sembarangan!

Kapan waktu terbaik?
Datanglah saat musim kemarau. Bila sudah berada di sana, sebaiknya tunggu sampai sore saat burung-burung kembali pulang ke sarang.

------------------------------------------------

Perjalanan bersama blogger dan fotografer ini merupakan kerjasama PT Pertamina (Persero). Foto-foto juga ditampilkan di twitter dan instagram dengan hashtag #JelajahEnergiCirebon.


Comments (1)

Topic:
Sort
0/5 (0)
Gravatar
Dewi Rieka says...
Senangnya bisa main ke sini, iya tegang lewati bambu takut ambrol hihi Alhamdulillah aman ya mba

Add Comment

* Required information
(never displayed)
 
Smile Sad Huh Laugh Mad Tongue Crying Grin Wink Scared Cool Sleep Blush Unsure Shocked
 
2000
Captcha
Refresh
 
Enter code: