Home >>Blog >Jalan-jalan

Terry Endropoetro's avatar

Menyusuri Sisa Kejayaan Batavia

Ada alasannya mengapa 'kantor' Gubernur Jenderal VOC (Vereenigde Oost-Indische Compagnie) pindah dari Banda Neira, Maluku ke Batavia. Karena letaknya yang strategis di tengah-tengah nusantara bisa dijadikan tempat transit semua rempah dan hasil bumi sebelum kemudian dikapalkan ke Eropa.

Kota Batavia dibangun oleh VOC pada tahun 1619. Merupakan penambahan dari benteng Nassau (1611) dan benteng Maurit (1617l) tanah seluas 65 hektar ini dikelilingi tembok tinggi dari batu bata dan campuran batu karang. Jadilah Kasteel van Batavia.

Benteng kota dilengkapi 22 buah bastion di ujung-ujung dan sepanjang sisi benteng. Bastion berfungsi sebagai tempat untuk petugas jaga, memantau keadaan di luar benteng. Dipersenjatai pula dengan 140 pucuk meriam. Terbayang betapa ketakutannya pemerintah Belanda pada perlawanan pribumi kala itu, yang persenjataannya bisa dibilang tak seberapa.

GUDANG TEPI BARAT
Kasteel van Batavia kini sudah hancur tak lagi berbentuk. Berganti dengan bangunan-bangunan perkotaan tanpa tembok pemisah. Tapi sisa kejayaan VOC masih bisa kita temui. Salah satunya adalah Museum Bahari, yang terletak di sisi pelabuhan Sunda Kelapa di Jakarta Utara.

Ditemani Suci Tembanglaras, saya berjalan ke belakang bangunan museum. Melalui perkampungan dan sisa-sisa reruntuhan rumah bekas penggusuran kawasan Pasar Ikan.

Di kejauhan tampak bangunan-bangunan beratap genteng dan berdinding kayu. Dikelilingi 'kolam' genangan air hujan dan air laut yang kerap datang saat pasang. Untuk melihat lebih dekat, kami harus meniti papan-papan kayu yang disusun sedikit lebih tinggi dari permukaan air untuk bisa lebih mendekat.

Gudang dengan dinding dan pintu terbuat dari kayu yang sudah menghitam termakan waktu. Deretan jendela memiliki daun jendela yang bisa dibuka ke atas. Tampaknya sengaja dibuka agar bagian dalam gudang tak terlalu lembab.

Inilah Gudang Tepi Barat peninggalan VOC. Yang nyaris 'terbenam' dikalahkan bangunan-bangunan modern di sekitarnya. Terbayang dulu kawasan ini pasti dipenuhi kuli-kuli angkut yang hilir mudik menurunkan muatan dari kapal ke gudang. Memikul karung penuh lada, cengkeh, pala, kayu manis, dan rempah lainnya dari berbagai daerah di nusantara.

GUDANG TEPI TIMUR
Kalau ada Gudang Tepi Barat, lalu masih adakah Gudang Tepi Timur? Pertanyaan saya dijawab oleh Suci dengan mengajak saya menembus jalan raya yang ramai kendaraan. Ojek sepeda, motor, angkot, sampai truk-truk besar yang mengangkut peti kemas.

Kami masuk ke Jl. Tongkol yang letaknya tak jauh dari Museum Bahari. Di mulut jalan masuk ada peta Batavia. Letak kastil, pelabuhan Sunda Kelapa, dan petunjuk lokasi di mana saat itu kami berada.

Perjalanan dimulai dengan menyusuri kali dan deretan rumah. Sesekali bertegur sapa dengan penghuni di situ dan melewati deretan mural yang menghiasi tembok hasil karya pemuda Karang Taruna.

Kami berbelok di gang sempit dan Suci menunjuk tembok tinggi di balik deretan rumah-rumah. Ternyata itulah bagian tembok yang masih kokoh berdiri walaupun sudah dipenuhi lumut dan akar pohon. Kalau dilihat sekilas, hampir sama dengan tembok biasa yang terbuat dari batu bata. Tapi bila diperhatikan, barulah tampak banyaknya batu bata yang disusun melebar membentuk tembok tebal.

Berjalan ke arah selatan perkampungan. Kami sampai di sebuah lapangan tempat beberapa truk dan alat berat diparkir, mesin pemecah batu, dan beberapa gunungan kerikil. Di lokasi yang ternyata letaknya persis di sisi jalan tol RE.Martadinata, Jakarta Utara ini berdiri bangunan besar memanjang, bertingkat dua khas bangunan gaya Eropa.

Inilah sisa bangunan di Gudang Tepi Timur. Memiliki pintu kayu yang tertutup rapat dan jendelanya berderet-deret di dua tingkat. Beberapa daun jendela dibiarkan rusak dan terbuka. Jendela yang berteralis besi, seakan memanggil siapa pun untuk melongok ke dalam. Gelap, kosong, dan berbau lembab. Tak usah lama-lama, daripada tahu-tahu ada yang muncul dari balik jendela. Hihhh!

Tak seperti Gudang Tepi Barat yang direnovasi lalu dijadikan Museum Bahari. Gudang Tepi Timur ini tampak terbengkalai. Mungkin nyaris terlupakan dan tak banyak yang mengingat bahwa dulu di tempat ini merupakan gudang tempat penyimpanan gandum, beras, kacang tanah, kacang ijo, kue-kue kering, dan bahan makanan lainnya.

Padahal fungsinya tak kalah penting seperti Gudang Tepi Barat. Bahan makanan yang disimpan adalah perbekalan awak kapal yang akan berlayar jauh berbulan-bulan. Kapal yang membawa bermacam rempah ke Eropa. Hasil bumi nusantara yang menjadikan VOC berjaya di mata dunia selama hampir 200 tahun lamanya. █


Comments (1)

Topic:
Sort
0/5 (0)
Gravatar
suci says...
cakep banget tulisannya. kuy lah jalan lagi ke kota tua.

Add Comment

* Required information
(never displayed)
 
Smile Sad Huh Laugh Mad Tongue Crying Grin Wink Scared Cool Sleep Blush Unsure Shocked
 
2000
Captcha
Refresh
 
Enter code: