Home >>Blog >Jalan-jalan

Terry Endropoetro's avatar

Nenek Moyang Cengkih di Dunia

Cengkih Afo yang berarti tua dalam bahasa setempat, adalah pohon cengkih tertua di lereng gunung Gamalama yang masih berdiri tegak walaupun sudah hampir sekarat dan mulai terlupakan. Kunjungan rombongan MAHAKARYA INDONESIA jadi salah satu cara mengingatkan kembali, bahwa negeri ini memiliki banyak harta yang berharga.

           Dari jalanan beraspal yang cukup lebar, makin lama jalanan mulai menyempit, berkelok, dan menanjak naik. Tak ada kendaraan umum untuk merayap kaki gunung Gamalama, mencapai desa Air Tege Tege, Kecamatan Tabahawa, 6 kilometer dari pusat kota Ternate, Maluku Utara. Pilihannya hanya mobil sewa atau ojek motor dengan kondisi mesin prima.
           Ditemani Bongky Motau dari Ternate Heritage Society, perjalanan kami menyusuri perkebunan cengkih pun dimulai. Jalur berupa anak-anak tangga yang harus didaki, turun-naik bergantian dengan jalur rumput dan tanah, juga menapak susunan ruas bambu panjang yang melintasi sungai. Berjalan santai, menghirup udara segar di siang hari, melewati pohon-pohon cengkih yang tumbuh tinggi menjulang. Menikmati pemandangan pohon-pohon pala menggantungkan ratusan buahnya yang kuning menggoda. Selain itu, pohon kelapa, kayu manis, kenari, dan durian pun ada. Di sela-sela pepohonan, tampak lautan biru membentang di kejauhan dengan deretan gunung di pulau-pulau seberang.

           Sepanjang perjalanan tak tercium harum cengkih, karena musim panen ‐antara Juni hingga Oktober, sudah lewat. Konon dahulu bila musim panen tiba, masyarakat bergotong-royong memanen cengkih bersama-sama. Namun kini, petani cengkih lebih memilih mendatangkan puluhan buruh dari Sulawesi Utara, yang memasang tiang-tiang bambu menjulang sebagai penyangga untuk memetik bunga cengkih dari bawah hingga bagian pucuk tertinggi.
           Dalam sejarah, pedagang-pedagang Cina dan Arablah yang memperkenalkan cengkih pada dunia. Rempah beraroma wangi ini hanya bisa didapat di negeri bernama Al-Mulk ‐tanah para raja, yaitu wilayah kesultanan Ternate, Tidore, Bacan (Makian), dan Jailolo (Moti). Tak heran bila kala itu, di Cina cengkih dijadikan barang untuk menunjukkan tingkatan sosial, kebangsawanan, dan kekayaan. Yang harus dikunyah sesaat sebelum menghadap raja, agar mengeluarkan aroma wangi saat berbicara.
           Salah satu rempah yang dikenal penduduk setempat sebagai gau medi yang berarti daun pedas ini menjadi incaran bangsa-bangsa Eropa. Seiring dengan kolonialisme, cengkih merupakan salah satu rempah bernilai tinggi berabad-abad lamanya. Dijadikan bumbu masak, bahan pengawet, minyak gosok, bahan pembuatan obat, hingga penambah rasa pada rokok kretek.

           Di tengah perkebunan, rombongan berhenti di depan sebuah pohon tua, yang dikelilingi pagar berwarna putih kusam. Papan bertuliskan 'eugenia aromaticum' ‐cengkih dalam bahasa latin, tertempel pada batang pohon yang besar dan berwarna hitam. Tinggi pohonnya hampir 10 meter, dengan sedikit dahan yang memiliki daun. Inilah pohon Cengkih Afo 2, usianya sudah lewat dari 200 tahun, masih berdiri kokoh walau jelas tak berapa lama lagi akan mati. Pohon cengkih ini adalah generasi kedua dari pohon tertua, yaitu Afo 1 yang sudah mati setelah bertahan hidup selama 416 tahun, setelah 'menyumbangkan' bibit-bibitnya untuk disebarkan dan ditanam di seluruh dunia. Pohon-pohon cengkih raksasa ini bagai harta yang diwariskan turun-temurun. Hingga kini pewaris ke-4 tetap melestarikannya, menjaganya tetap tumbuh sebagai sebuah artefak dari penutup masa kejayaan rempah di nusantara.


Comments (1)

Topic:
Sort
0/5 (0)
Facebookdel.icio.usStumbleUponDiggGoogle+Twitter

Add Comment

* Required information
(never displayed)
 
Bold Italic Underline Strike Superscript Subscript Code PHP Quote Line Bullet Numeric Link Email Image Video
 
Smile Sad Huh Laugh Mad Tongue Crying Grin Wink Scared Cool Sleep Blush Unsure Shocked
 
2000
 
Notify me of new comments via email.