Home >>Blog >Icip-icip Kuliner

Terry Endropoetro's avatar

Makan 'Kilat' di Purbalingga

Bukan berarti makan waktu hujan deras. Tapi mencicipi kuliner khas setempat dalam waktu singkat di sela-sela jadwal yang padat.

Itu yang kami alami. Saat saya, Leoni (@leonisecret), Dede (@coretanmasdede), dan Ono (@onossemblang) ikut dalam rombongan meliput acara BUMN Mengajar (baca: Ketika Pejabat Harus Mengajar) di Purbalingga awal Maret lalu. Walau hanya sedikit jenis kuliner yang sempat kami coba, nanmun tampaknya sudah cukup menaikkan berat badan.

SROTO

Memang begitu penyebutannya. Isinya berupa suwiran daging ayam, potongan daging sapi (bila diminta kadang ada pula babat dan jeroan lainnya), tauge, irisan ketupat atau lontong, perkedel kentang, irisan daun bawang, dengan kerupuk dan taburan bawang goreng.

Kuah kaldunya seperti soto pada umumnya, yang membuat cita rasa sroto ini istimewa adalah bumbu kacang yang bercita rasa gurih dan sedikit pedas. Makin banyak bumbu dituang, makin sedap rasanya.

MENDOAN

Makanan ini sebenarnya khas daerah Banyumas. Bukan hanya di Purbalingga, tapi juga ada di Purwokerto, Cilacap, Kroya dan sekitarnya. Ke manapun anda berkunjung, mendoan dijadikan suguhan. Karena mendoan mudah dibuat. Penjaja mendoan pun mudah ditemui, selalu ada dari pagi sampai malam hari. Jadi jangan heran, selain jadi camilan, mendoan juga dijadikan lauk saat makan.

Tempe mendoan menggunakan kedelai hitam dan khusus dibuat dalam lembaran tipis. Dimatangkan dengan cara dibungkus dengan balutan daun pisang yang kemudian dilapisi kertas, lalu diikat rapat dengan biting. Biasanya satu bungkus berisi 2 lembar tempe, dan dijual seharga Rp500, perbungkus.

Sebelum digoreng, lembaran tipis tempe ini dicelup ke dalam adonan tepung yang kadang dicampur dengan irisan daun bawang agar lebih sedap rasanya. Digoreng setengah matang, seperti arti katanya, mendo dalam bahasa setempat. Dimakan hangat dengan cabai rawit atau cocolan sambal kecap.

SOP KEONG

Kraca, itu sebutannya. Penjual sop keong bisa ditemui di sekitar alun-alun Purbalingga yang menjadi pusat kuliner pada malam hari. Semangkuk sop berisi sekitar 20-30 keong, tergantung besar kecil ukurannya. Dimakan dengan cara mencungkil daging keong dari cangkang menggunakan tusuk gigi. Warna daging keong cokelat kehitaman. Teksturnya kenyal dengan cita rasa gurih, sedikit asam, dan pedas.

Saya lupa bertanya apa saja bumbu yang digunakan, tapi kalau boleh menebak pasti ada bawang merah, bawang putih, lengkuas, serai, daun salam, dan yang jelas merica, karena rasa pedasnya bertahan lama di bibir.

Katanya makan keong seperti ini lebih seru kalau diseruput dari cangkangnya. Saya tergoda mencoba. Sekali gagal, dua kali tetap tak bisa, tak usahlah mencoba ketiga kali. Saya sudah keburu lapar. Nah, cicipannya tiga jenis makanan dulu ya, nanti lain waktu kalau berkunjung ke Purbalingga akan lebih banyak lagi kuliner khas yang bakal saya cicipi. Janji! █


Comments

No comments yet.

Add Comment

* Required information
(never displayed)
 
Smile Sad Huh Laugh Mad Tongue Crying Grin Wink Scared Cool Sleep Blush Unsure Shocked
 
2000
Captcha
Refresh
 
Enter code: