Home >>Blog >Segala Rupa

Terry Endropoetro's avatar

Listrik Murah untuk Rakyat

"Di sana ada listrik tidak?" pertanyaan itu selalu saya ajukan bila hendak bepergian ke daerah pelosok Indonesia. "Ada waktu pemadaman tidak?" Itu pertanyaan selanjutnya.

Beruntung ketika di Wamena, Papua, saya bisa tinggal di penginapan terbagus di sana. Letaknya di puncak bukit, kamar-kamarnya berupa honai (bentuk rumah khas Papua) yang terpisah satu sama lain. Listrik pun sudah ada. Namun beberapa batang lilin dan korek api yang disediakan di setiap honai menandakan pemadaman listrik bisa terjadi kapan saja.

LISTRIK 'MERAMBAT' KE BUKIT
Suatu malam ketika kembali ke penginapan ternyata listrik sudah padam sejak sore. Mesin diesel dinyalakan untuk mengalirkan listrik, tapi hanya mampu menerangi bangunan utama, lobby dan ruang makan. Jadilah semua orang duduk berkumpul di sana. Tak tampak juga cahaya dari kota Wamena yang berada jauh di lembah, berarti sedang dilakukan pemadaman listrik total.

Setelah beberapa jam, mulai ada titik-titik cahaya di lembah. Berarti listrik di sebagian kota Wamena sudah kembali menyala. Berselang satu jam kemudian, makin banyak titik cahaya. Kalau dilihat dari jarak, berarti listrik 'akan sampai ke bukit' sekitar 4 jam lagi.

Sementara saya dan beberapa orang lain sudah mulai menggigil kedinginan duduk berlama-lama di ruangan yang semi terbuka. Satu persatu pergi ke honai, walau masih gelap paling tidak akan lebih hangat. Dipandu cahaya senter, tak pelak saya tersandung-sandung beberapa kali dan meraba-raba pagar teras honai bak orang buta.

INDONESIA BELUM TERANG
Pada periode 80-an, progam listrik masuk desa dilakukan pemerintah. Ya, memang betul, tapi desa di mana dulu? Dari ujung barat sampai timur negeri ini tampaknya hanya pulau Jawa yang terpenuhi kebutuhan listriknya.

Sementara kita tahu betapa luasnya Indonesia. Pengadaan listrik di pulau-terbesarnya saja belum merata, apalagi di pulau-pulau kecil yang tersebar di mana-mana. Sedangkan di pulau Pramuka, kepulauan Seribu (yang cuma 3 jam penyeberangan dari Jakarta), baru pada 2012 masyarakat di sana bisa menikmati listrik siang dan malam.

MATI LAMPU TETAP BAYAR
Yang sudah 'kebagian' listrik juga belum tentu bisa langsung bernafas lega. Karena pemadaman berkala rutin dilakukan di beberapa wilayah. Seperti pengalaman saya di Palu, Sulawesi Tengah. Saking seringnya jadwal pemadaman pun tersedia, lengkap dengan tanggal, jam, dan nama wilayah. Sudah bagus ada pemberitahuan, jadi semua kegiatan bisa disesuaikan dengan jadwal pemadaman. Tidak seperti di Sorong, Papua. Listrik yang padam berulang kali, akhirnya baterai kamera yang sedang di-charge 'jebol' karena listrik yang tidak stabil.

Pengalaman lucu saya alami di Banda Neira, Maluku. Semua kebutuhan listrik di Neira (ibukota kecamatan kepulauan Banda Neira) dihasilkan dari satu mesin diesel yang diletakkan di tengah perkampungan. Mesin dengan suara bising itu menderu selama 24 jam, 7 hari dalam seminggu.

Ketika pada suatu malam badai melanda, tiba-tiba mesin diesel mati. Semua orang langsung berlari keluar rumah, mengerubungi mesin diesel berusaha memperbaiki. Bukan kegelapan yang mereka takutkan, ternyata mereka lebih merasa aneh kehilangan suara deru mesin diesel.

Dengan segala keterbatasan, masyarakat dipaksa menyesuaikan diri dengan keadaan. Walaupun listrik padam, tidak ada kompensasi. Masyarakat sebagai pelanggan tetap harus membayar listrik dengan tarif yang tak bisa dibilang murah.

HABIS GELAP TERBITLAH TERANG
Ketika pemerintah mencanangkan program Indonesia Terang, timbul pertanyaan, cukupkah ketersediaan sumber energi kita? Percuma saja kalau perkembangan pembangunan yang semakin pesat belum diimbangi dengan pasokan energi yang memadai.

Sebenarnya Indonesia memiliki hampir semua sumber energi untuk pembangkit listrik. Panas bumi, air, minyak, gas alam, batu bara, sampai angin dan sinar matahari pun kita punya.

Tapi kalau melihat infografik di atas, dibanding yang lainnya, ternyata batu bara merupakan sumber energi terbesar yang secara berkelanjutan mampu memasok listrik bagi para pelanggan. Hal ini tentunya berperan penting menunjang pembangunan, Indonesia pun akan bisa mengejar ketinggalan dari negara-negara Asia lainnya.

Soal biaya sumber listrik yang murah, batu bara mengalahkan panas bumi, gas alam, dan minyak. Wah, berarti seharusnya tarif listrik bisa menjadi lebih murah, dong... Ya, namanya juga pelanggan, bukan cuma ingin terang tapi dengan tarif listrik yang lebih murah dan terjangkau, pastilah senang. █

Foto: www.pixabay.com, Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI-ICMA)


Comments

No comments yet.

Add Comment

* Required information
(never displayed)
 
Smile Sad Huh Laugh Mad Tongue Crying Grin Wink Scared Cool Sleep Blush Unsure Shocked
 
2000
Captcha
Refresh
 
Enter code: