Home >>Blog >Seni Budaya

Terry Endropoetro's avatar

Mahabharata & Perang Kurusetra yang Berwarna

Siapa yang tak kenal epos Mahabharata? Ceritanya sering ditampilkan dalam bentuk pagelaran wayang. Namun kali ini, perang besar Pandawa dan Kurawa akan ditampilkan oleh para aktor dan penari dari beberapa negara, dengan seorang Jepang sebagai sutradaranya.

Dimulai dengan adegan simbolik Destarasta, ayahanda para Kurawa yang dalam kebutaannya bermimpi dihujam sebuah panas raksasa. Diiringi senandung suram, wanita yang meratap syahdu. Adegan berganti saat kain merah menjulur dari langit-langit sebagai jalan Abimanyu dan Dewi Kuntari ke pelaminan. Para keluarga Pandawa berjajar di belakang. Semua pandangan langsung tertuju pada pelita kecil yang bergerak di sepanjang karpet merah. Penanda bencana dan kematian akan datang melanda.

KAYA GERAK TUBUH & BAHASA
Ketika Duryudana menantang para Pandawa berperang, inilah puncak segala pertikaian berkepanjangan antara dua keluarga bersepupu keturunan dewata. Kresna yang tak turun berperang pun diperebutkan oleh Pandawa dan Kurawa. Arjuna yang diberi kesempatan lebih dulu memilih sosok Kresna di pihaknya. Sementara Duryudana yang mendapatkan bala tentara Kresna sudah jumawa, yakin Kurawa pasti akan menang perang. Duryudana tidak tahu bahwa Kresna dapat melihat masa lalu, masa kini, dan masa depan.

Dalam pertunjukan Mahabharata (Part 3) ini gerak tubuh menjadi ekspresi universal. Penggabungan sempurna seni modern kontemporer dengan seni tradisi terlihat jelas sejalan alur cerita. Iringan musik yang berganti-ganti, mulai rintihan mengalun menyayat hati, penggabungan suara alat musik tradisional Jepang dan gamelan Jawa, hingga dialog yang dibawakan cepat ala rapper.

Tak melulu menampilkan gerakan tari dan teaterikal. Kejutan justru muncul ketika pertama kali Duryudana angkat bicara, bahasa Chinalah yang terdengar. Destarastra yang berbahasa Jepang. Sementara Dursasana dan Dorna, dan menggunakan bahasa Jawa. Adegan yang menarik adalah saat Kunti menyambangi Karna (anak dari Kunti dan Btara Surya), berusaha mencegah perang saudara. Dewi Kunti menyampaikan pesan dalam bahasa Indramayu-an, dibalas Karna dengan bahasa Tagalog. Tapi semua dialog dapat dimengerti karena selain bahasa Indonesia, bahasa lain diterjemahkan dan ditampilkan di layar.

PANDAWA VS KURAWA
Tak ada Pandawa Lima di sini. Karena hanya ditampilkan Arjuna, Yudistira, dan Bima. Kresna, Puteri Utara, Abimanyu, Drupadi, Kunti, dan Srikandi yang merupakan titisan Amba juga berada di pihak Pandawa. Dari sata kurawa ditampilkan Destarastra, Bisma, Duryudana, Dursasana, Dorna, Sanjaya, Kripa, dan Aswatama.

Tokoh Mahabharata tersebut dimainkan oleh hanya 9 orang. Latar belakang panggung yang dihias dengan jajaran topeng-topeng kayu dan beberapa rangka besi berbentuk monyet menjadi tempat para membelakangi penonton, dan dengan gerakan anggun mereka berganti baju bahkan mengenakan topeng untuk peran yang berbeda.

Walau menggunakan tenun lurik pada sebagian kostum yang digunakan namun nuansa Jepang tak bisa lepas dari pertunjukan ini. Celana lebar dan kimono sebagai jubah beberapa kesatria. Bahkan sosok Arjuna yang berdiri gagah dengan rambut klimis dikuncit pun mirip seorang pendekar samurai. Belum lagi umbul-umbul perang Pandawa dan Kurawa yang dijajar sebagai latar belakang di Kurusetra.

Kostum Pandawa didominasi warna putih pelambang sifat sederhana, kebaikan, dan kesucian hati. Sementara para Kurawa yang bergelimang harta berbalut kain yang mengilat indah. Tak ada penampilan seram para Kurawa, Duryudana yang berjubah panjang dengan kepala tak berambut malah sangat berwibawa mirip seorang pendeta Shinto. Dan saat adegan satu lawan satu dengan Arjuna, ditampilkan pertarungan gaya kendo.

Hiroshi Koike yang tak hanya sebagai sutradara, tapi juga penata artistik, penulis, koreografer, fotografer; dan mengurusi desain panggung, berhasil mangajak para seniman dari Jepang, Indonesia, Malaysia, dan Filipina berkolaborasi dengan sangat baiknya. Pada 28-29 Oktober 2016 lalu petunjukan kisah perang ini digelar dengan megah di panggung Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Kisah sepanjang masa yang sarat pesan dan nilai kebajikan tentang manusia-manusia keturunan para dewa.

MAHABHARATA & SANG SUTRADARA
Pementasan Mahabharata ini merupakan proyek Hiroshi Koike Bridge Project yang berdurasi 8 tahun (2013 - 2020). Ditampilkan dalam beberapa bagian dan setiap bagian diproduksi di negara berbeda, hasil kerja sama dengan seniman tradisional setempat:
Mahabharata Part 1 di Kamboja (2013), dipentaskan di Phonm Penh dan Hanoi.
Mahabharata Part 2 di India (2014), dipentaskan di New Delhi.
Mahabharata Part 2.5 di Jepang (2015), dipentaskan di Bangkok, Shanghai, Manila, dan Tokyo.
Mahabharata Part 3 Kurusetra War di Indonesia (2016), dipentaskan di Yogyakarta dan Jakarta.
Rencananya Mahabharata Part 4 akan diproduksi di Thailand (2017). Lalu akan ada lagi Mahabharata the First Part (2018), Mahabharata The Later Part (2019), dan akan pentas keliling dunia pada 2020. &block

Sutradara: Hiroshi Koike
Aktor/penari: (Filipina), Gunawan Maryanto (Indonesia), Lee Swee Keong (Malaysia), Riyo Tulus Pernando (Indonesia), Sachiko Shirai (Jepang), Sandhidea Cahyo Narpati (Indonesia), Suryo Purnomo (Indonesia); Tetsuro Koyano (Jepang), Wangi Indriya (Indonesia)
Penata Musik: Peni Candrarini, Kensuke Fujii
Penata Kostum: Lulu Lutfi Labibi, Mandakini Goswani
Artistik Panggung: Agung Kurniawan, Firos Khan
Penata Cahaya & Direktur Teknik: Ignatius Sugiarto


Comments

No comments yet.

Add Comment

* Required information
(never displayed)
 
Smile Sad Huh Laugh Mad Tongue Crying Grin Wink Scared Cool Sleep Blush Unsure Shocked
 
2000
Captcha
Refresh
 
Enter code: