Home >>Blog >Jalan-jalan

Terry Endropoetro's avatar

Menebak Sejarah di Bus Wisata Keliling Ibukota

Memasuki bus tingkat untuk wisata keliling Jakarta mangkal di halte dekat Stasiun Kota, dan bersiap mendengarkan sejarah sepanjang rute perjalanan 'History of Jakarta'. Di tingkat bawah hanya ada seorang pengemudi wanita, ditemani wanita lain mengenakan seragam yang sama. Selain saya, siapa pula yang berwisata di hari kerja? Kata saya dalam hati.

Ternyata, di tingkat atas ada 15 orang lebih yang sudah menempati tempat duduk. Beberapa pasangan orang tua yang membawa anak-anak mereka, selebihnya pria dan wanita berpakaian rapi layaknya pekerja kantoran.

Jam menunjukkan pukul 14.15 saat bus mulai berjalan. Akan berapa lama waktu yang ditempuh, tergantung lancar tidaknya lalu lintas Jakarta. Buktinya, baru beberapa meter bus berjalan, sudah langsung dihadang kemacetan di depan Stasiun Kota.

FASILITAS GRATIS + TIDUR SIANG
Melalui pengeras suara, pemandu menyapa para penumpang dan memberi informasi rute bus yang berangkat dari halte di Jl.Lada (dekat Stasiun Kota), akan melewati Jl.Pintu Besar Selatan ‐ Jl.Hayam Wuruk ‐ Jl.Ir.H.Juanda ‐ Jl.Pos ‐ Jl.Gedung Kesenian ‐ Jl.Katedral ‐ Jl.Veteran ‐ Jl.Veteran III ‐ Jl.Medan Merdeka Utara ‐ Jl.Medan Merdeka Barat ‐ Jl.Medan Merdeka Selatan ‐ putar balik di depan kantor Gubernur DKI - Jl.Medan Merdeka Barat ‐ Jl.Majapahit ‐ Jl.Gajah Mada ‐ Jl.Pintu Besar Selatan ‐ Jl.Bank ‐ Jl.Kunir ‐ Jl.Kemukus ‐ Jl.Ketumbar, dan kembali ke Jl.Lada.

Alunan lagu anak-anak menemani perjalanan, kemudian berganti dengan siaran radio dengan lagu-lagu Top 40 yang kekinian. Padahal sebelum naik, saya sempat membayangkan perjalanan bakal diiringi lagu-lagu keroncong Tugu atau lagu-lagu Benyamin Sueb yang lekat dengan budaya Betawi.

Macetnya kawasan kota memang luar biasa. Anak-anak yang tadi antusias mulai tampak bosan dan bertingkah turun-naik kursi, mengutak-atik katup AC, dan mulai rewel. Beberapa kali saya harus menegur mereka yang duduk bersandar pada kaca depan, sementara orang tuanya tidur dengan nyaman. Sebenarnya ada kamera CCTV di pojok atas, untuk memantau tingkah laku para penumpang. Tapi entah berfungsi atau tidak, buktinya tak ada petugas yang naik ke atas untuk berjaga-jaga atau sekedar memberi peringatan pada anak-anak itu.

Belum sampai perempatan Harmoni, sebagian penumpang sudah tertidur. Ternyata mereka naik bus bukan untuk berwisata, melainkan sengaja menumpang dan turun di beberapa halte pemberhentian. Sebagian pekerja kantoran yang bersama saya turun di halte Gedung Kesenian, dari sana naik rombongan ibu-ibu yang baru belanja dari Pasar Baru. Di halte Masjid Istiqlal anak-anak yang rewel tadi diajak turun oleh orangtuanya, kemudian naik rombongan lain. Lalu semua rombongan turun di halte Monas. Ketika di halte Monas saya menoleh ke belakang, ternyata saya satu-satunya yang duduk di tingkat atas. Semua rombongan sudah turun. Beberapa orang naik di halte kantor Gubernur DKI, dan beberapa pegawai negeri naik dari halte Museum Nasional dan Museum Arsip saat jam pulang kerja. Kecuali saya, tampaknya mereka sudah terbiasa menggunakan sarana ini, layaknya naik bus kota saja. Bedanya, bus ini nyaman, gratis pula!

WISATA TANPA PEMANDU
Bisa dibilang begitu. Karena setelah tadi pemandu menyapa, saya pun bersiap mendengarkan 'History of Jakarta'. Tapi ternyata kok, sepi-sepi saja. Tidak ada cerita tentang Stasiun Kota, kawasan Glodok atau Lendetives yang merupakan kawasan dagang sejak zaman penjajahan. Tidak juga bercerita tentang sejarah Masjid Kebun Jeruk yang merupakan salah satu masjid tertua di sana.

Ketika sudah sampai di perempatan Harmoni. Saya masih berharap pemandu akan bercerita tentang Societeit Harmonie yang dulu menjadi tempat berkumpulnya para sosialita Belanda. Harapan saya sia-sia! Patung Hermes di jembatan Harmoni, deretan gedung tua, sampai gedung filateli di kantor pos, dan Pasar Baru pun tidak dibahas. Sampai saya akhirnya yakin bus ini memang berkeliling tanpa pemandu.

Tapi, tiba-tiba melalui pengeras suara, ada yang menjelaskan secara singkat tentang Gedung Kesenian. Nah, artinya ada pemandu! "Di sebelah kiri Anda adalah Gedung Kesenian..." Kiri? Sementara Gedung Kesenian ada di sebelah kanan saya. Duh, tampaknya si pemandu tidak menempatkan dirinya pada posisi duduk penumpang. Hadeuuuh!

Menyusul penjelasan lain saat melewati Lapangan Banteng, Katedral, Masjid Istiqlal, Istana Merdeka, Monumen Nasional, kantor Gubernur DKI Jakarta, Museum Nasional, dan Gedung Arsip. Penjelasan yang disampaikan sangat singkat, hanya berkisar tentang tahun berdiri dan fungsi. Tapi selama hampir 2 jam hanya itu saja yang saya dapatkan.

Tak ada cerita lain misalnya sejarah apa saja yang terjadi di lapangan Banteng, atau berapa luas Masjid Istiqlal, berapa tinggi menara Katedral, berapa banyak Presiden yang pernah tinggal di Istana Negara, berapa kilogram emas di puncak Monumen Nasional, atau 'bumbu-bumbu' menarik lainnya seperti berapa orang yang pernah menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta. Ya, kan?

Banyak obyek-obyek lain yang seharusnya bisa dijelaskan malah dilewatkan begitu saja. Seperti gedung Mahkamah Agung, patung Arjuna Wijaya, gedung Bank Indonesia, gedung Kementerian Pariwisata, bahkan gedung RRI pun punya cerita unik dalam peran sertanya membangun negeri. Yang sedihnya lagi, saat kembali ke kawasan kota tak pula dijelaskan tentang Museum Mandiri, Museum Bank Indonesia, bagaimana sejarah berdarah terjadi di Toko Merah, bagaimana dulu kanal Kali Besar dipenuhi perahu dan kapal dagang yang lalu-lalang, dan di ujung utaranya ada jembatan Kota Intan. Rasanya sayang saja usaha Pemprov DKI yang bekerja sama dengan TransJakarta ini dilaksanakan setengah-setengah.

Saya bukan ahli sejarah. Saya hanya suka jalan-jalan. Tapi sebagai penumpang bus wisata 'History of Jakarta' tentu tak salah kalau selama 2 jam perjalanan saya berharap lebih. Bukan hanya duduk melihat keramaian dan 'menikmati' kemacetan ibukota. Ini saya yang tinggal di Jakarta, bagaimana dengan para wisatawan dari luar kota atau manca negara bila naik bus ini, apa kira-kira yang akan mereka bawa pulang sebagai cerita?

Lain waktu saya ingin mengulang lagi perjalanan naik bus wisata ini. Tapi nanti saya akan duduk di bawah, persis di sebelah pemandu. Akan saya bombardir dia dengan segala pertanyaan, walau resikonya saya diturunkan di halte terdekat ha... ha... ha.... █

Tiket: GRATIS
Jam operasional:
09.00 - 17.00 wib (Senin - Jumat)
09.00 - 23.00 wib (Sabtu)
12.00 - 19.00 wib (Minggu)
Bisa naik dari:
- Halte Kota (sebelah gedung BNI)
- Halte Gedung Kesenian
- Halte Istiqlal (Jl.Veteran)
- Halte Monas (Jl.Medan Merdeka Barat, seberang Museum Nasional)
- Halte Kantor Gubernur DKI (Jl.Medan Merdeka Selatan)
- Halte Museum Nasional (Jl.Medan Merdeka Barat)
- Halte Gedung Arsip (Jl.Gajah Mada)


Comments (2)

Topic:
Sort
0/5 (0)
Gravatar
Keke Naima says...
Apa karena gratis ya, Mbak? Jadi penumpang pun seperti cuma numpang ke tujuan tertentu. Begitu juga dengan pemandunya. Jadi asal-asalan hehehe
Gravatar
Terry Endropoetro says...
Mungkin begitu. Sayangnya jadi makin terpupuk karena pemandu tidak memberlakukan bus ini selayaknya bus wisata.

Add Comment

* Required information
(never displayed)
 
Smile Sad Huh Laugh Mad Tongue Crying Grin Wink Scared Cool Sleep Blush Unsure Shocked
 
2000
Captcha
Refresh
 
Enter code: