Home >>Blog >Seni Budaya

Terry Endropoetro's avatar

Wayang Listrik dari Gianyar

Wayang orang, wayang kulit, wayang golek, wayang rumput, wayang beber, jelas bisa dibedakan dari pelaku dan bahan pembuatnya. Ketika mendengar wayang listrik, kira-kira akan bagaimana pertunjukannya?

Ketika lampu di sekitar lapangan dimatikan, saya, teman-teman #JejakMahakarya dan penonton lain sudah duduk berderet menghadap layar. Pementasan wayang dimulai. Sinar warna-warni menghias layar raksasa. Bayangan sebuah gunungan besar ditampilkan, diputar dan digerakkan ke berbagai arah. Menyusul dua buah gunungan kecil muncul di kedua sisinya.

Cerita pun dimulai, berlatar belakang gambar hutan. Bayangan tokoh-tokoh wayang ditampilkan. Bayangan bentuk-bentuk berbagai binatang digerakkan bersama-sama, beriring-iringan, berlompat-lompatan. Tiba-tiba terlintas di pikiran saya, kalau dalang hanya punya dua tangan? Dengan apa wayang-wayang yang sedemikian banyak dia gerakkan?

KESIBUKAN DI BALIK LAYAR
Karena penasaran, berjingkat-jingkatlah saya ke belakang layar. Dalam gelap, tampak puluhan orang memenuhi panggung, satu-satunya sinar berasal dari proyektor yang menyorot ke layar. Dua orang sinden duduk bersimpuh di pinggir panggung bersama para penabuh gamelan. Proyektor menampilkan gambar-gambar yang terus berganti sebagai latar belakang setiap adegan. Di bawahnya duduk 8 orang di atas papan beroda. Di sisi kanan dan kiri tertancap puluhan wayang, terbuat dari kulit, plastik, dan kaca yang bisa menampilkan efek berbeda di layar. Belasan lainnya digeletakkan di lantai. Dengan papan beroda, lincah kaki mereka melangkah menggerakkan papan meluncur ke kanan, ke kiri, maju, mundur. Merunduk-runduk agar bayangan kepala mereka tak tampil di layar. Delapan orang itu masing-masing memegang wayang, disesuaikan dengan siapa yang memegang tokoh apa. Kerja sama yang sempurna hingga tak satu pun dari mereka bertabrakan. Semua berlaku sebagai dalang, dipimpin I Made Sidia, sebagai pembawa cerita.

CERITA YANG KEKINIAN
Dari 10 cerita wayang yang kerap dibawakannya, malam itu I Made Sidia menggelar cerita Ramayana. Cerita pewayangan yang 'hits' di pulau Dewata karena mengandung banyak pelajaran budi pekerti ini dikemas dengan menyelipkan beberapa kejadian tentang lingkungan hidup dan sosial ekonomi masa kini. Wayang-wayang yang digerakkan menghentak-hentak seperti gerakan penari Bali. Beberapa tokoh wayang pun bisa melakukan gerakan push-up dan aerobik. Musik gamelan yang diselingi bass dan keybord melantunkan lagu berirama rock 'n roll. Dalang pun sempat menyanyikan lagu Indonesia Raya.

Kerajaan Alengka ditampilkan sebagai kota metropolitan, dengan gedung-gedung pencakar langit yang megah. Ke sanalah Rahwana membawa Shinta yang ia culik saat di hutan Dandaka. Membakar hutan menjadi upaya menghadang Rama dan pasukan kera yang pasti akan datang menyerang Alengka. Bagian lain hutan pun dibabat habis. Wayang berbentuk gergaji besi dan traktor menggambarkan bagaimana hutan dirusak. Kayu-kayunya dipotong dijual ke pabrik untuk dijadikan kertas dan toilet paper.

Dalam pementasan ini yang datang menyerang Alengka ternyata bukan pasukan kera, melainkan rakyat di sana yang sudah lama menderita, dan sengsara. Di balik layar dua orang penari berkostum wayang berdiri, seorang melakonkan Rama dan Rahwana. Mereka menggunakan topi yang di bagian sampingnya ditambahi ukiran wayang terbuat dari kertas karton. Yang satu memerankan Rama, yang satu lagi berdiri lebih dekat dengan proyektor sehingga para penonton melihat tubuh raksasa. Dengan gerakan tubuh, peperangan pun menjadi lebih nyata. Sungguh sebuah gabungan kerja kreatif yang memerlukan kepekaan dalam proses penciptaan, ketekunan berlatih, dan kerja sama saat mementaskan pertunjukan.

MEWARISI ILMU
Pertunjukan wayang kontemporer yang dipentaskan I Made Sidia ini mempunyai beberapa sebutan, mulai Wayang Layar Lebar, Wayang Skateboard, sampai akhirnya dinamai Wayang Listrik. Selain tokoh-tokoh wayang yang seperti biasa dijumpai. Ide bentuk-bentuk wayang lainya diambil dari benda-benda yang biasa ditemui dalam kehidupan sehari-hari. Bahasa pengantar pun bisa diatur. Menggunakan bahasa Indonesia ketika dipentaskan di Jakarta, bahkan bahasa Inggris ketika dipentaskan di Sydney, London, Swiss, dan Rotterdam.

Di pentaskan di pasar-pasar atau di mana saja, asal cukup lapang untuk membangun panggung dan membentang layar. Menggunakan bahasa daerah sebagai pengantar, pementasan Wayang Listik sempat menjadi 'obat penenang' dan peredam emosi masyarakat Bali saat diteror bom beberapa tahun lalu.

Wayang Listrik merupakan salah satu ide kreasi I Made Sidia, yang pada 1990 mendirikan Sanggar Paripurna di desa Bona, Gianyar, Bali. Di sanggarnya siapa pun boleh belajar kesenian Bali. Menari, menabuh gamelan, atau mendalang. Membuat kostum tari atau mendekorasi panggung, semua melibatkan pemuda desa. Dengan cara inilah ia menjaga akar budaya daerahnya. Agar bisa menularkan ilmu yang diturunkan ayahandanya, I Made Sidja (84), seorang dalang penari Gambuh dan dalang wayang kulit klasik yang legendaris di Bali.

"Seperti pohon, bila akarnya kuat maka batang, dahan, dan daunnya pun akan melebar," begitu I Made Sidia menggambarkan tujuannya melestarikan kebudayaan negeri ini, menjaga Mahakaya Indonesia. █

Foto: Negeri{Kita}Sendiri, Driana Rini Handayani

Baca juga:
» Kecak & Epos Ramayana
» 'Pencerahan' 13 Kilometer di Jatiluwih

──────────────────

Perjalanan #JejakMahakarya #MahakaryaIndonesia (15-20 Agustus 2016) ini diikuti perwakilan dari blogger, fotografer, videografer, dan media. Foto-foto juga diposting di twitter dan instagram dengan hastag #JejakMahakarya


Comments

No comments yet.

Add Comment

* Required information
(never displayed)
 
Smile Sad Huh Laugh Mad Tongue Crying Grin Wink Scared Cool Sleep Blush Unsure Shocked
 
2000
Captcha
Refresh
 
Enter code: