Home >>Blog >Jalan-jalan

Terry Endropoetro's avatar

Kabut Pagi di Palembang

Kenikmatan memandang jembatan Ampera di pinggiran sungai Musi jadi berkurang, karena langit biru terhalang kabut putih pekat akibat asap buangan dari cerobong pabrik pupuk ditambah pula udara pagi yang seharusnya segar malah 'dibumbui' bau tak sedap.

Ada yang bilang bau tak sedap itu berasal dari pabrik yang sama, tapi ada pula yang mengatakan asalnya dari pabrik karet di hulu sungai. Baunya cukup menusuk hidung dan seakan 'mengikuti' ke mana pun saya pergi. Dalam dialek lokal seorang teman menjelaskan perbedaan bau keduanya, "Kalau dari pabrik pupuk mambunyo amoniak, kalau dari pabrik karet mambunyo busuk." Saya menyimak sebentar, seakan-akan bisa membedakan keduanya ha... ha... ha....

Teringat beberapa cerita teman yang bersemangat datang ke Palembang untuk menyaksikan peristiwa gerhana matahari total. Pagi-pagi mereka menyusuri Jembatan Ampera mencari spot terbaik untuk memotret kejadian langka itu. Saat bayangan bulan menutupi sebagian matahari, saat itu pulalah cerobong pabrik pupuk bekerja mengeluarkan asap. Serentak semua orang kecewa.

Dari mulai Benteng Kuto Besak sampai Pasar 16 Ilir, masyarakat setempat tetap melakukan kegiatan seperti tak terganggu dengan keadaan tersebut. Mungkin karena dialami setiap hari mereka pun menjadi terbiasa. Para tukang perahu tetap gesit menawarkan jasa mengantar wisatawan ke pulau Kemarau (sebuah pulau yang dijadikan tempat wisata ziarah). Beberapa orang duduk-duduk di bangku panjang menikmati pemandangan jembatan Ampera dan perahu-perahu tetap berlalu-lalang di bawahnya. Para pedagang pasar pun mulai sibuk menyiapkan lapak dan menyusun dagangan mereka.

Saya, Uthie, PopiePop, dan Danny Tumbelaka meneruskan berjalan kaki di bawah jembatan Ampera menuju kawasan kuliner Pasar 16 Ilir. Deretan tenda dipasang melindungi warung-warung dengan menu yang hampir sama: pempek, tekwan, model, celimpungan, mi celor, dan pindang ikan. Ada juga warung yang menyediakan nasi goreng dan mi instan, tapi makanan tradisional tetap jadi juaranya.

Di pinggiran sungai beberapa perahu 'disulap' menjadi rumah makan. Menu andalannya adalah pindang ikan, yang tampaknya terlalu 'berat' bila dimakan di pagi hari. Jadi kami memutuskan mampir di salah satu lapak dagangan di dermaga untuk duduk dan 'ngopi-ngopi'.

Sambil menunggu kopi disedu, tangan ini sudah sigap mengambil gorengan berupa pisang yang dibentuk bulat seperti bola. Bakwannya pun dibentuk serupa dengan rasa yang agak membingungkan. Karena ketika dicicipi, bakwan yang katanya merupakan campuran tepung dan sedikit wortel itu rasanya malah seperti ubi manis ha... ha... ha....

Sesaat setelah kopi dihidangkan, pempek yang selesai digoreng diletakkan di dalam wadah. Irisannya tebal-tebal dan berwarna kelabu. Saya cicipi dan rasanya ya sudahlaaah ... tentunya tak bisa diharapkan seenak pempek buatan toko. Saya tuangkan 'cuko' di dalam mangkuk, saya hirup sedikit. Astagaaa! Sedap luar biasa. Bentuk dan rasa pempek 'yang ajaib' pun jadi bisa dimaafkan. Sarapan saya pagi itu, segelas kopi, 1 pisang goreng, 1 bakwan, dan 3 iris pempek berwarna kelabu hanya menghabiskan uang Rp5.000.

Selama bersantai dan mengobrol, tanpa sadar kami tak lagi terganggu bau busuk yang menusuk. Mungkin lama-lama hidung kami pun terbiasa. Atau bau itu mulai lenyap terbawa angin, seperti kabut asap dari pabrik pupuk yang lama-lama menyingkir, dan jembatan Ampera pun tampil dengan gagahnya. █


Comments

No comments yet.

Add Comment

* Required information
(never displayed)
 
Smile Sad Huh Laugh Mad Tongue Crying Grin Wink Scared Cool Sleep Blush Unsure Shocked
 
2000
Captcha
Refresh
 
Enter code: