Home >>Blog >Segala Rupa

Terry Endropoetro's avatar

Tanah, Air & Reklamasi Tambang Batubara

Kalau bicara tambang batubara, yang terbayang adalah lubang yang menganga lebar dan dalamnya bagai hendak menembus perut bumi. Tapi ketika tiba di lokasi bekas tambang Paringin, Kalimantan Selatan, yang tampak malah sebuah kawasan hijau. Rasa penasaran pun muncul, di mana bekas lubang tambangnya?

Puluhan tahun yang lalu Paringin merupakan salah satu lubang tambang batubara yang memiliki kedalaman ratusan meter di bawah permukaan laut. Sampai pada akhirnya tak lagi dioperasikan, PT Adaro Energy —sebagai perusahaan penambang, menimbun lubang tambang menggunakan tanah permukaan yang dulu dikeruk di sana.

Kegiatan di kawasan tambang batubara memang tak melulu soal emas hitam yang berharga. Tapi juga tentang kewajiban menghijaukan kembali bekas lubang tambangnya. Salah satu tanggung jawab terhadap lingkungan. Dan di sana, hal ini ternyata tak sekadar wacana. Setelah 15 tahun, pemandangan bekas tambang Paringin berubah total. Pepohonan rindang sudah menghijau di mana-mana. Menjadi rumah berbagai serangga, lebah, burung, babi hutan, hingga bekantan. Penanda hutan sudah kembali alami seperti sedia kala.

Di lahan bekas tambang ini pun dibuat kolam-kolam pembudidayaan ikan. Nila, gurame, haruan (gabus), jelawat, papuyu, dan lais ada di sana. Masyarakat sekitar pun diuntungkan, karena bisa mendapatkan bibit ikan untuk dikembangbiakkan sebagai modal memulai usaha.

Karena sampai akhir 2016, dari seluruh luas kawasan tambang masih ada 200 hektar lahan yang harus direklamasi. Tempat penyemaian tanaman pun sudah dipersiapkan. Sebuah bangunan semi terbuka menjadi tempat benih-benih ditanam di wadah-wadah plastik. Sebagian sudah mulai menampakkan kelopak daunnya, pertanda 2-3 bulan lagi siap dipindah ke lahan terbuka. Dipindahkan ke bedeng-bedeng sapih dengan jaring-jaring pelindung yang sengaja dijadikan atap, agar tanaman yang baru belajar tumbuh tidak langsung mati terkena paparan sinar matahari.

Setiap bulan ada 10.000-30.000 bibit siap tanam. Berbagai jenis tanaman seperti gamal, johar, ketapang, lamtoro, sengon, dan turi yang menjadi andalan reklamasi. Karena cepat tumbuh meninggi walaupun baru 6 bulan ditanam, kembali menghijaukan tanah-tanah yang gersang.

Berbeda dengan ulin yang hanya tumbuh beberapa milimeter saja dalam setahun. Pohon lokal yang sengaja dibibitkan karena jumlahnya yang kian lama kian menyusut di hutan-hutan Kalimantan. Pohon yang juga dikenal dengan sebutan kayu besi ini memiliki kualitas kayu nomor satu. Kayunya biasa digunakan untuk bangunan dan kapal layar, karena kuat dan anti rayap.

Begitu juga nasibnya dengan pohon gaharu, yang kalau tak diawasi bukan tidak mungkin akan ditebang habis oleh masyarakat. Karena batangnya yang harum dan dijadikan bahan pembuatan parfum, laku di pasaran dengan harga ratusan juta rupiah.

Sementara bibit pohon jarak, pongamea, gamal, kesambi, dan kemiri sunan memiliki keistimewaan tersendiri. Perasan biji buahnya menghasilkan minyak biodiesel, yang walaupun dalam jumlah terbatas sudah digunakan sebagai bahan bakar mesin-mesin tambang. Sebuah proyek percontohan yang cukup diacungi jempol.

Tidak melulu soal tanah yang harus direklamasi, air pun mendapat perhatian khusus di sana. Air sisa kegiatan tambang yang bercampur air hujan dialirkan ke danau-danau. Melalui proses pengendapan dan tahapan lainnya kemudian diolah menggunakan mesin-mesin berteknologi tinggi untuk menjadi air bersih.

Mesin pengolahan air bekerja 18 jam setiap hari. Ditempatkan di tempat penampungan, sebelum kemudian dialirkan melalui pipa-pipa ke setiap rumah di desa Dahai, Laburan, dan Padang Panjang yang terletak beberapa kilometer dari lokasi pertambangan.

Penduduk desa bebas menggunakannya untuk memasak, mencuci, hingga menyuburkan kebun tanpa tak perlu pusing harus membayar, karena setiap tetesnya bisa diperoleh secara cuma-cuma. Mereka tak perlu lagi khawatir akan kekurangan air di musim kemarau, karena air bersih tersedia sepanjang tahun. █

──────────────────

Perjalanan bersama rombongan blogger pada 22-24 Juni 2016 ke Tanjung dan Balangan, Kalimantan Selatan ini terlaksana atas undangan PT. Andaro Energy. Foto-foto juga diposting di twitter dan instagram dengan hastag #AdaroSiteVisit


Comments (2)

Topic:
Sort
0/5 (0)
Gravatar
yanuar says...
Mba Terry
Terimakasih tulisan nya ya, membawa pikiran baru tentang tambang selama ini di masyarakat awam. Semoga kami selalu memperbaiki diri untuk peduli kepada lingkungan.
Gravatar
terry endropoetro says...
Terus terang selama ini banyak hal buruk tentang tambang saja. Padahal ternyata ada perusahaan tambang yang juga \'mengembalikan\' apa yang sudah mereka ambil. Jadi tetap optimis untuk masa depan negeri ini.

Add Comment

* Required information
(never displayed)
 
Smile Sad Huh Laugh Mad Tongue Crying Grin Wink Scared Cool Sleep Blush Unsure Shocked
 
2000
Captcha
Refresh
 
Enter code: