Home >>Blog >Icip-icip Kuliner

Terry Endropoetro's avatar

Menyeruput Kopi Kawa Daun

Belanga dari tanah liat di atas meja terus saja mengepulkan uap. Di bagian bawah meja memang ada tungku yang apinya terus menyala membuat air di belanga tetap panas dan dedaunan di dalamnya makin menghitam. Baru kali ini saya menyeruput air rebusan daun kopi, beraroma kopi namun rasanya lebih mirip teh. Minuman yang disajikan dalam tempurung kelapa ini, bukan sekedar minuman tradisional. Namun, ada kisah di baliknya.

Tanaman kopi awalnya ditemukan tumbuh di dataran tinggi Ethiopia, Afrika. Dibawa oleh para pedagang Arab dan diperjualbelikan sampai ke Eropa. Ketika harga kopi makin mahal, Belanda mulai membawa bibit tanaman kopi dan menyebarkan ke negara-negara jajahannya, termasuk Nusantara dalam era tanam paksa.

Lahan kebun di dataran tinggi Minangkabau dipenuhi tanaman kopi. Penduduk desa yang tak memiliki tanah harus bekerja di kebun-kebun milik pemerintah Hindia Belanda, dianggap sebagai pengganti pajak yang harus mereka bayarkan. Tiba saat panen, seluruh biji kopi harus diserahkan kepada meneer-meneer Belanda, dibeli dengan harga murah. Harga yang sudah ditentukan oleh VOC, perusahaan dagang milik Belanda.

Para babu dan jongos yang bekerja di rumah-rumah orang Belanda bercerita bahwa aroma dan rasa minuman kopi sangatlah nikmat. Minuman yang selalu mereka siapkan untuk meneer dan mevrouw sebagai pendamping roti saat sarapan di pagi hari. Mendengar cerita itu orang pribumi pun ingin mencicipi, tapi para petani hanya tahu cara menanam dan memanen, tak tahu bagaimana mengolah biji kopi. Lagipula mana ada hak petani atas biji kopi? Toh, kata meneer-meneer Belanda khasiat daun kopi sangat tinggi, lebih berharga daripada biji kopi, makanya mereka sengaja meninggalkan daun-daun untuk para petani. Dan nenek moyang kita pun percaya....

Tak ada biji, daun pun jadi. Oleh orang pribumi, daun kopi yang dipetik disangrai terlebih dahulu hingga kering, sebelum di seduh layaknya membuat minuman teh. Minuman 'hasil tipu-tipu' meneer Belanda ini kemudian dikenal dengan sebutan kawa daun, berasal dari kata kahwa yang dalam bahasa Arab berarti kopi. Dan ternyata memiliki khasiat menyembuhkan hipertensi, memperlancar saluran pernafasan, dan menjaga stamina.

Setelah Belanda hengkang dari Indonesia, kawa daun tetap bertahan di ranah Minang, Mandailing, Jambi, dan lereng Gunung Kerinci. Tapi kebiasaan ini lambat-laun ditinggalkan setelah mereka tahu bahwa kopi yang dihasilkan dari biji lebih enak daripada dari rebusan daunnya. Hanya beberapa daerah saja yang masih mempertahankan minuman tradisional ini. Salah satunya kafe Kawa Daun Kiniko di Nagari Tabek Patah, Kecamatan Salimpaung, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat.

Walau ada tumpukan cangkir kaleng untuk menyeduh kopi, saya tetap memilih kawa daun sebagai minuman sore itu. Membubuhkan sedikit gula dan mengaduknya menggunakan batang kayu manis. Menyeruput sedikit-demi sedikit kehangatannya mencoba meresapi warisan nenek moyang. █

Baca & tonton juga:
» Terry Endropoetro: 7 Piring & 2 Gelas untuk Sarapan Pagi
» Terry Endropoetro: Jalan-jalan sambil Jajan di Lembah Harau & Kelok 9
» Shasya Pashatama:
» Swastika Nohara: Adakah Rumah Makan Padang di Padang?
» Swastika Nohara: Kenapa Dinamai Ayam Pop?
» Swastika Nohara: Nasi Kapau Uni Cah Juara Nasional
» Simbok Venus: Jalan-jalan ke Padang Makan di Mana?
» Dwika Putra: "#SunCoTripMinang"

──────────────────

Perjalanan ini terlaksana atas undangan Minyak Goreng SunCo dalam Trip Kuliner Minang Mei 2016. Diikuti perwakilan dari blogger, videografer, dan media. Foto-foto juga diposting di twitter dan instagram dengan hastag #SunCoTripMinang


Comments

No comments yet.

Add Comment

* Required information
(never displayed)
 
Smile Sad Huh Laugh Mad Tongue Crying Grin Wink Scared Cool Sleep Blush Unsure Shocked
 
2000
Captcha
Refresh
 
Enter code: