Home >>Blog >Jalan-jalan

Terry Endropoetro's avatar

Desa Wisata Tegal Wangi,
'Menganyam Hidup' dari Rotan

"Barang siapa yang dapat membuat lampit dari rotan untuk menutupi bale gede, dialah yang akan kujadikan suami," ucap Nyi Mas Semantra yang kemudian dia mengingkari dengan menggagalkan usaha Pangeran Kejaksan yang datang ke Tegal Wangi membawa setumpuk rotan.

"...kelak wanita-wanita di sini akan menikah dengan lampit-lampit rotan," kata Pangeran Kejaksan ketika gagal mempersunting Nyi Mas Semantra. Entah kutukan atau hanya semacam ungkapan kekecewaan biasa. Yang jelas, ucapan Pangeran Kejaksan itu terbukti. Sejak abad ke-15 daerah Tegal Wangi, Cirebon ini terkenal dengan kerajinan rotannya.

Hingga kini, puluhan toko dan showroom di sepanjang jalan raya pun memajang beragam kerajinan rotan yang dihasilkan warga desa memiliki keterampilan menganyam yang diwariskan turun-temurun. Kesabaran dan kecekatan pun jadi andalan untuk keperluan rumah tangga hingga dijual ke manca negara.

KAMPUNG WISATA
Setelah puluhan tahun menjadi pusat industri rotan, desa Tegalwangi pun mencoba merambah industri pariwisata. Selain menjadi pusat industri rotan, dibuka pula menjadi desa wisata khusus kerajinan rotan. Masyarakat di sana pun sudah siap menerima kunjungan wisatawan. Keseruan saat berkunjung ke sana adalah, Anda bisa melongok masuk ke rumah yang pintunya sedang terbuka. Bisa dipastikan si empunya rumah sedang menganyam rotan.

Semua proses pengerjaannya pun bisa dilihat, mulai rotan diturunkan dari truk hingga dinaikkan kembali dalam bentuk perabot. Rotan-rotan didatangkan dari beberapa daerah di pesisir Jawa juga dari Sulawesi, Kalimantan, dan Sumatera. Setiap jenis rotan memiliki ciri dan keunggulan masing-masing, disesuaikan dengan kegunaannya.

Pengelupasan kulit rotan masih dilakukan dengan cara semi tradisional. Untuk rotan-rotan berukuran besar, menggunakan alat dengan mesin. Rotan-rotan itu didorong masuk ke dalam lubang yang otomatis mengelupas kulitnya. Sementara untuk menghaluskan permukaan rotan yang sudah terkelupas, sesuai ukurannya rotan akan dimasukkan ke dalam salah satu dari deretan lubang di lempengan besi. Kemudian ditarik keluar, batangan rotan pun jadi halus merata dari pangkal sampai ke ujung.

Proses pelengkungan batang-batang rotan, hingga membentuk perabot membuat saya berdecak kagum. Kecepatan jemari mereka menganyam pun bikin saya berdecak kagum. Ketika ditanya berapa banyak tudung saji yang dibuat dalam sehari, seorang remaja menjawab, "Paling tidak sepuluh dalam sehari." Seorang lainnya bisa menyelesaikan 5 buah kursi dalam sehari dengan model tertentu.

INDUSTRI RUMAHAN
Di kabupaten Cirebon ternyata ada 11 desa yang menjadi sentra industri rotan. Salah satunya adalah desa Tegalwangi yang berpenduduk 10.000 jiwa dan 90% bekerja sebagai pengrajin rotan, yang bekerja secara perorangan atau perkelompok. Disebut industri rumahan dalam arti benar-benar bisa dikerjakan di rumah. Jadi jangan heran bila seorang ibu rumah tangga menganyam rotan sambil sesekali memeriksa masakannya di dapur.

Dari semua kerajinan rotan yang dihasilkan, 90% dipasarkan di luar negeri, 10% lain untuk pasaran lokal, dijual di toko-toko atau dijual sendiri. Pesanan untuk ekspor biasanya dihitung dalam kontainer. Untuk satu kontainer perabot rotan dikerjakan oleh 60 tenaga kerja per bulan. Pada awal 2000-an, saat kerajinan rotan sedang naik daun, pesanan ekspor mencapai 3.000 konteiner per bulan. Bayangkan!

Melihat jumlah produksi yang dihasilkan tiap bulannya menjadikan Tegal Wangi sebagai pusat kerajinan rotan terbesar di Indonesia. Hasil produksinya diekspor ke beberapa negara Asia, Amerika, Afrika, Eropa, dan Australia, tentunya dengan kualitas yang cukup baik. Dan tak jarang produk-produk tersebut kemudian dijual kembali ke Indonesia sudah ditempeli label terkenal, dan tentunya harga pun menjadi jauh lebih mahal. █

──────────────────

Perjalanan bersama para blogger (Jakarta, Cirebon, dan Indramayu) ini terlaksana atas undangan Kementerian Pariwisata Indonesia. Foto-foto juga diposting di twitter dan instagram dengan hastag #PesonaCirebon #PesonaIndonesia


Comments (1)

Topic:
Sort
0/5 (0)
Facebookdel.icio.usStumbleUponDiggGoogle+Twitter
Gravatar
Yaya says...
Gambar terakhir yang ada mobil angkut barang, itu rumah sayaGrin, baju ungu bapak saya. Terimakasih sudah berkunjung ke kampung wisata galmantro Tegalwangi-Cirebon

Add Comment

* Required information
(never displayed)
 
Bold Italic Underline Strike Superscript Subscript Code PHP Quote Line Bullet Numeric Link Email Image Video
 
Smile Sad Huh Laugh Mad Tongue Crying Grin Wink Scared Cool Sleep Blush Unsure Shocked
 
2000
 
Notify me of new comments via email.